Kamis, 16 April 2009

FESTIVAL APRIL 2003

Festival April

“Festival April adalah sebuah festival perempuan yang diselenggarakan untuk merayakan bulan kelahiran Kartini. Dalam Festival April, perayaan hari Kartini mengejawantah dalam bentuk yang berbeda: inovatif dan mendobrak. Disini suara kaum perempuan akan diserukan kepada masyarakat melalui medium yang sangat menarik, yaitu seni budaya.”

Festival April adalah sebuah perayaan akbar bagi kreatiftas artistik perempuan; sebuah ajang untuk mendorong dan mempromosikan karya-karya para seniman dan penulis perempuan.

Festival April akan berlangsung di Jakarta selama 17 hari, menampilkan 7 sub- festival atau cabang kesenian. Kesemuanya dirancang untuk menjadi event budaya yang populer dan menyenangkan. Festival ini akan menjadi agenda tahunan yang prestisius. Kami berharap dimasa depan akan muncul event-event serupa di berbagai kota di Indonesia.

Festival April juga merupakan bagian dari jaringan Ladyfest Internasional - yakni jaringan festival perempuan “LadyFest” yang pertama kali digelar di Olympia, Amerika Serikat pada tahun 2000 dan saat ini telah meluas penyelenggaraannya di lebih dari 20 kota besar di Amerika, Eropa dan Australia. Festival April akan merupakan LadyFest pertama yang diselenggarakan di Asia.

Festival April diprakarsai oleh Institut Ungu, dan disambut hangat oleh berbagai komponen masyarakat mulai dari praktisi seni, aktivis perempuan, akademisi, organisasi sosial, media massa, dan ber bagai institusi baik pemerintah maupun swasta.


Liputan Media tentang Festival April 2003


Festival April 2003
Festival Perempuan Pertama di Indonesia

Jakarta, Sinar Harapan, 25 Maret 2003
www.sinarharapan.co.id/berita/0303/25/hib02.html


Pusat seni budaya perempuan ”Institut Ungu” menyelenggarakan Festival April 2003, sebuah festival perempuan pertama di Indonesia yang sekaligus merayakan bulan kelahiran Kartini. Segala macam medium seni budaya antara lain sastra, film, seni rupa, diskusi buku, temu pengarang, orasi budaya dua generasi, tari, musik, peluncuran buku, dialog publik ”Seni dan Pembebasan Perempuan”, dan Anugerah Sastra Perempuan akan ditampilkan sejak 5 April hingga 20 April mendatang.

Acara pembukaan Festival April 2003 dimulai Sabtu (5/4) malam di Galeri Cipta II dan III, Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan happening art ”Pembebasan” oleh Marintan dan perupa Finlandia, Willem. Disusul peresmian pameran senirupa yang mengekspresikan seni patung, fotografi, seni lukis, grafis, keramik, instalasi, body painting, desain fashion, mixed media dan video art. Diikuti sekitar 40 perempuan perupa Indonesia dari semua generasi seperti Kartika Affandi, Astari Rasyid, Dolorosa Sinaga, Iriantine Karnaya, Titi Qadarsih, Keke Tumbuan, Tri Neddy hingga Wara Anindyah dan Ni Kadek Murniasih.

”Saya ingin menaikkan citra perempuan dalam seni lukis,” ujar Titi Qadarsih, ibunda Indra ”BIP”, saat jumpa wartawan di Galeri Cemara 6, Jumat (21/3).
Di antaranya Titi akan membuat sketsa lukisan cepat (5 menit) dengan basic tari, puisi, dan gerak berimajinasi secara spontan dan tiba-tiba.

Kegiatan senirupa itu dilengkapi dengan workshop yang diisi perupa terkenal seperti Dolorosa dan para mahasiswi Fakultas Senirupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta).
Adapun festival film perempuan (10 – 13 April 2003) yang berlangsung di sineplek TIM, halaman TIM, dan Galeri Cipta II menyajikan antara lain Tiga Dara, Ibunda, Budak Nafsu, Kerikil-Kerikil Tajam, dan Ponirah Terpidana. Ada pula beberapa fim asing dari Rusia, Iran, Australia, Portugal, India, dan Jepang. Selain itu ditampilkan film-film independen karya sutradara perempuan Indonesia.

Festival sastra perempuan (16-17-18/4) akan menyajikan diskusi buku kisah klasik Indonesia, Calon Arang dari dua pengarang berbeda, Toety Heraty Noerhadi dan Pramudya Ananta Toer. Selain itu diadakan temu pengarang dan publik bersama belasan penulis lintas generasi, mulai dari NH Dini, Mira W, Marianne Katoppo, hingga Dewi Lestari, Ayu Utami, dan Jenar Maesa Ayu.

Dialog publik ”Seni dan Pembebasan Perempuan” (19/4) di Galeri Cipta II akan menghadirkan pembicara Ratna Sarumpaet, Dolorosa, Ahmad Dhani ”Dewa”, dan penyair Putu Oka Sukanta.

Kegiatan Festival April 2003 diakhiri dengan Malam Perayaan Kartini (20/4) di Graha Bhakti TIM yang diisi orasi kebudayaan dua generasi dari dua pelaku budaya perempuan yang mewakili zaman dan generasinya, yakni Prof Toety Heraty dan Dewi Lestari. Disusul dengan pemberian anugerah sastra perempuan, diiringi pentas tari etnis kontemporer Betawi bertajuk ”Kembang Jaro” karya Madya Patra Rahadi, dan ”Sri Tanjung” karya I Wayan Diya.

Pentas tari itu dilengkapi kemeriahan musik dari Oppie Andaresta (pop), Syaharani (jazz), Ubiet (tradisional Aceh), dan Mak Minah (Betawi).
Ketua Umum Institut Ungu, Yeni Rosa Damayanti menyebut Festival April 2003 adalah ekspresi kreativitas seni budaya komunikatif untuk publik di Hari Kartini.(jjs)


Festival presents women in arts
The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 04/10/2003 10:42 AM | Life
Tantri

Yuliandini, The Jakarta Post, Jakarta

Kartini Day, every April 21, usually evokes memories of parades of little children clad in colorful national dress or various competitions ranging from best-dressed, best-behaved, best singing, to best writing.

One wonders what they all had to do with Kartini, the 19th century Javanese woman who had supposedly sparked the first women's emancipation movement in Indonesia with her school for girls and progressive letters.

Nothing whatsoever. And therefore it is with great relief that Institut Ungu, a women's art and cultural organization, has organized Festival April 2003, showcasing the progress of Indonesian women in the field of arts and culture, in commemoration of this year's Kartini month.

""At Festival April the voices of women will be carried to the people through an interesting medium, arts and culture,"" Institut Ungu said in a statement.

Festival April is the first all-women festival in the country, aimed at exposing a women's perspective to the general public as well as promoting the creations of female artists and authors.

The five main themes of the festival -- which opened on April 5, 2003 at Taman Ismail Marzuki (TIM) in Central Jakarta -- are a Women's Fine Arts Festival, Women's Film Festival, Women's Literature Festival, a public dialogue titled Seni dan Pembebasan Perempuan (Art and Women's Emancipation), and a Kartini Night.

The Women's Fine Arts Festival will showcase the work of 40 female artists like Kartika Affandi, Astari Rasyid, Dolorosa Sinaga, Sekar Ayu Asmara, Rima Melati and Rukmini Affandi, with works ranging from sculpture, photography, painting, to video and happening art.

The Women's Fine Arts Festival will be held from April 5 to April 11 at TIM's Galeri Cipta II and Galeri Cipta III. Workshops by the masters will be held at Galeri Cipta II from 10 a.m. to 5 p.m. and exhibitions will be open from 10 a.m. to 10 p.m.

Between April 10 and April 14, The Women's Film Festival will be held at TIM's Cineplex 21 and on a wide screen on the grounds of TIM.

To be screened during the festival are Indonesian films on women like Kartini, Tiga Dara (Three Women), Ibunda (Mother), Budak Nafsu (Lust Slave), and Kerikil-Kerikil Tajam (Sharp stones), as well as foreign movies such as Doesn't Believe in Tears (Russia), Rabbit Proof Fence (Iran) and To Be or Not To Be (Portugal).

The festival will also screen independent movies by or about women.

Cala Ibi, a book by Nukila Amal, will be launched at Aksara Bookstore in Kemang, South Jakarta, on April 16.

The Women's Literature Festival will continue on April 17 with a discussion of Perempuan dalam Cerita Calon Arang (Women in the Calon Arang story) by a panelists, including Gadis Arifia, Pande K. Trimayuni and Max Lane.

The discussion, held at TIM's Galeri Cipta II at 7 p.m. until 10 p.m., is based on Toeti Heraty's Calon Arang, Kisah Perempuan Korban Patriarki: Prosa Lirik (Calon Arang, A Story of a Woman Victim of Patriarchy: Lyrical Prose), and Pramoedya Ananta Toer's The King, the Witch, and the Priest.

A short story workshop for high school students will be organized on April 17 and April 18 at TIM's Galeri Cipta II with Linda Christanty at 11 a.m. to 3 p.m.

Authors Ayu Utami, Mira W, Mariane Kattopo, NH Dini, Jenar Maesa Ayu and Helvi will be on hand at Galeri Cipta II on April 18 at 7 p.m. for a meet-the-author event.

A book bazaar and exhibition A Room of Her Own will also take place during the two-day Women's Literature Festival at Galeri Cipta II.

On April 19, a public dialogue titled Seni dan Pembebasan Perempuan (Art and Women Emancipation) will be organized at Galeri Cipta II between 10 a.m. and 3 p.m.

Panelists will include Anang Hermansyah, Julia Surya Kusuma, Ratna Sarumpaet and Dolorosa Sinaga.

Festival April will end on the eve of Kartini Day with a cultural oration by two generation of Indonesian women -- Toeti Heraty and Dewi Lestari -- and the launch of the Women's Literary Award.


Kompas, 13 April 2003.

Memperingati Hari Kartini Tanpa Kebaya dan Konde



SETIAP memasuki bulan April, perempuan di Indonesia pasti akan teringat pada RA Kartini. Lalu, biasanya peringatan terhadap gagasan, ide, dan perjuangan perempuan ningrat Jawa untuk sesama perempuan itu akan diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang jauh melenceng dari pikiran-pikiran tokoh emansipasi perempuan itu.

MULAI dua tahun lalu, ada yang berubah di masyarakat dalam memperingati Hari Kartini. Peringatan untuk perempuan yang bersikukuh bahwa memajukan perempuan adalah melalui pendidikan ini tidak lagi berwujud lomba berkebaya, lomba memasak, lomba putri luwes, atau beramai-ramai berbusana daerah seperti berpuluh tahun terjadi.

Tahun ini, dari tanggal 5-21 April 2003, ada Festival Seni Budaya Perempuan untuk Perayaan Bulan Kartini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Acara yang digagas Institut Ungu ini berwujud pameran seni rupa, pemutaran film, dialog publik, bedah buku, orasi budaya oleh Toeti Heraty dan Dewi "Dee" Lestari, sampai perayaan Malam Kartini. Sebelumnya, Divisi Perempuan & Anak Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia bersama-sama Teater Bejana memproduksi monolog Cairan Perempuan untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Perempuan Internasional.

Tahun lalu, meskipun tidak persis dilakukan pada bulan April melainkan bulan Maret, untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, publik Jakarta disuguhi pertunjukan monolog berjudul Vagina Monolog. Pentas yang naskah aslinya berjudul Vagina Monologues karangan Eve Ensler ini sungguh provokatif dan menarik minat penonton maupun media massa, karena hal yang menyerempet-nyerempet seksualitas jarang sekali dibicarakan secara publik, seolah tabu membicarakannya. Salah-salah bisa dituduh pornografi, sementara yang nyata-nyata menjajakan pornografi dibiarkan tenang-tenang melakukannya.

Pentas monolog yang berbicara tentang keperempuanan dan pengalaman perempuan yang menyenangkan maupun yang pahit, termasuk kekerasan terhadap perempuan itu, tahun ini diadakan di Yogyakarta dan penonton pun kembali luber.

Menurut Dian Kartika dari Koalisi Perempuan Indonesia sebagai produser acara pentas Vagina Monolog di Indonesia, istri Wali Kota Yogyakarta ikut menjadi salah satu pembaca naskah. Kabarnya, semula Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X, akan ikut menjadi salah satu pembaca naskah, tetapi saat-saat terakhir mengundurkan diri.

Gejala apa ini? Apa benar ketika pengaruh negara melemah, perempuan berhasil mengambil inisiatif memaknai keperempuanan mereka dengan cara berbeda dari makna yang selama ini dibentuk oleh negara?

BILA acara-acara kesenian di atas menarik perhatian publik dan media massa, boleh jadi karena ada pelibatan sejumlah selebriti di dalamnya. Deretan nama yang dikenal luas publik, seperti artis Ine Febriyanti, Rieke Dyah Pitaloka, Syaharani, Ria Irawan, Dewi Lestari, Nurul Arifin, kakak beradik Ayu dan Sarah Azhari, Rima Melati, serta penulis novel Ayu Lestari dan perupa Astari Rasyid, terlibat dalam kegiatan ini.

Di balik itu, sebenarnya adalah kesadaran dari kelompok-kelompok perempuan untuk melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi wajah perempuan Indonesia melalui jalan kesenian untuk menjangkau publik yang lebih luas dan tidak berkesan menggurui. "Kami memilih Hari Kartini karena dia adalah tokoh yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia," tutur Yeni Rosa Damayanti dari Dewan Pengurus Institut Ungu.

Ternyata, gagasan kelompok perempuan tersebut seperti gayung bersambut. Sejumlah selebriti menyambut ajakan berpartisipasi dan bersemangat menanggapi isu-isu mengenai perempuan.

"Perempuan sekarang harus lebih ekspresif dan berani menyampaikan gagasan. Kartini pada zamannya kan sudah menyuarakan isi hati. Perempuan sekarang juga bisa menjadi Kartini," kata pemain sinetron Ine Febriyanti (27), yang juga menerjuni dunia teater.

Ine menyuarakan pendapatnya itu melalui pentas teater, antara lain Ekstrim karya William Mastrosimone, yang dimainkan bersama Jakarta Shakespeare Theater di Taman Ismail Marzuki akhir Januari lalu. Ine memerankan tokoh Margie, perempuan yang mengalami perkosaan. Sebagai survivor, Margie bangkit melawan dan menyiksa si pemerkosa untuk membalas dendam. Tetapi, pada akhir cerita, etika perempuan yang menurut psikolog dari Harvard Carol Gilligan berdasarkan pada kepedulian, memunculkan rasa iba pada Margie dan dia mengampuni pemerkosanya.

"Perempuan itu memiliki keindahan, tetapi bukan berarti lalu laki-laki punya hak untuk mengintimidasi perempuan," tandas Ine. "Saya cukup bangga membela perempuan lewat pentas Ekstrim. Saya ingin menjadi seperti Kartini yang pada zamannya berani menyuarakan ide. Sekarang, seperti dalam pentas Ekstrim, saya ingin menyampaikan ini lho persoalan (ketidakadilan) sebenarnya yang dialami perempuan."

Syaharani (31) mengaku langsung bersedia membantu lebih jauh dalam Festival April 2003 setelah berbicara dengan Yeni Rosa Damayanti. Semula dia diminta mengisi acara penutupan, tetapi kemudian bersedia dilibatkan dalam kepanitiaan untuk promosi yang secara bercanda dia sebut, "Ikut nempel-nempel poster di supermarket-supermarket. Woro-woro, PR-lah."

"Saya melihat aktivitas ini dari sisi penyebaran daya apresiasi dan peningkatan pendidikan," kata Syaharani, yang Selasa lalu berada di Bandung untuk urusan menyanyi di sebuah hajatan perusahaan. "Obat paling mujarab untuk memperbaiki generasi sekarang ini melalui pendidikan dan apresiasi seni bermutu."

Aktris Ria Irawan (34) termasuk yang pertama-tama terlibat dalam pentas teater yang berbau penyadaran hak-hak perempuan. Tahun lalu dia ikut dalam pentas Vagina Monolog di Jakarta dan tahun ini untuk pentas yang sama di Yogyakarta. Dia juga terlibat dalam pentas teater Perempuan di Titik Nol (2002) dan monolog Cairan Perempuan (2003).

Meskipun begitu, Ria mengaku niatnya ikut dalam pentas-pentas teater atau monolog bertema perempuan bukanlah didasari kesadaran dari awal untuk ikut dalam gerakan perempuan. "Kesertaanku dalam pentas-pentas itu adalah bagian dari revolusi perjalananku, bukan sebuah kesadaran, apalagi karena mengikuti gerakan perempuan," kata Ria.

Bila pentas teater yang pernah dia ikuti nantinya melahirkan sebuah genre berkesenian baru, katakan teater feminis, Ria mengatakan sanggup mempertanggungjawabkannya secara kesenian.

Dalam Festival April 2003, Ria akan menjadi salah satu pembicara pada tanggal 19 April, sedangkan pada tanggal 18 April, Ria akan ikut membacakan surat-surat Kartini dalam sebuah acara yang diadakan di Rembang, Jawa Tengah. "Gue ikut-ikut pentas itu bukan karena tumbuhnya kesadaran akan gerakan perempuan. Gue tiba-tiba sudah ada, itulah revolusi gue itu," kata Ria lagi.

KATA ekor berkonotasi dengan sesuatu yang pasif karena mengikut saja ke mana kepala pergi. Kata itulah yang digunakan Rieke Dyah Pitaloka (29) dengan sangat provokatif untuk menggambarkan kenyataan perempuan dalam perkawinan saat ini.

//bagai ekor yang menempel di pantat binatang…// ungkap Rieke dalam puisi berjudul Kado Perkawinan. Rencananya, puisi itu akan terbit bersama puisi-puisinya yang lain bulan depan. Isinya terutama mengenai ketertindasan perempuan, bukan hanya oleh laki-laki, tetapi juga oleh sistem yang patriarkis.

"Dalam perkara ini, perempuan yang menempel suami bagai ekor di pantat binatang sama sekali tidak bisa disalahkan. Sistem yang berlaku di masyarakat dan negara adalah sumber penyebabnya. Sistem kita masih carut-marut. Pendidikan kita, misalnya, sama sekali tidak berpihak kepada kaum perempuan," kata Rieke.

Ada satu pengalaman yang membuat Rieke melek bahwa perempuan di dalam budaya Indonesia posisinya masih direndahkan dan didominasi sistem yang patriarkis. Pada awal kariernya sebagai artis, seorang produser pernah menawarinya untuk memilih "main gila" atau main sinetron. "Gila enggak aku ditawari kayak begitu. Menurut aku, itu sudah merupakan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan," kata Rieke jengkel.

Kejadian pengambilan gambar secara sembunyi-sembunyi sejumlah artis ketika mereka berada di ruang ganti pakaian, menurut Rieke, adalah contoh lain tentang dominannya budaya patriarki. "Bukan sekadar perendahan atau pelecehan terhadap harkat perempuan, ini sudah mencederai. Temanteman yang terkena kasus ini menjadi sangat trauma, dan ini cedera yang sangat sulit disembuhkan," kata Rieke. Tragisnya, berbagai tindakan pelecehan itu, lanjutnya, dianggap sebagai sesuatu yang wajar, biasa saja.

Perjuangan Kartini, menurut Rieke, memang baru berhasil membukakan pintu sekolah untuk anak-anak perempuan, tetapi itu adalah sumber inspirasi. Banyak yang mesti dilakukan ke depan, meskipun perempuan sekarang bisa mengambil keputusan buat dirinya.

"Perempuan belum bisa lepas dari penindasan bukan saja oleh laki-laki, tetapi juga oleh sistem dengan negara sebagai pengendalinya. Belum tentu kan perempuan yang jadi pimpinan lalu kebijakannya membela kaum perempuan. Demikian juga sebaliknya, belum tentu seorang laki-laki tidak peduli pada perjuangan perempuan mendapatkan keadilan," tandas Rieke.

Karena alasan itu, Rieke tidak ragu-ragu ketika diajak tampil dalam pertunjukan monolog maupun pentas teater yang menyuarakan isu-isu perempuan, mulai dari Ekstrim, Perkawinan, sampai Cairan Perempuan. Dia bahkan bertekad akan berkesenian dengan terus membawakan suara perempuan.

Ada alasan mengapa Rieke memilih jalur kesenian. Kata mahasiswi S-2 Jurusan Filsafat Universitas Indonesia ini, kesenian akan lebih menyentuh hati nurani dan tidak menggurui. Di sisi lain, gerakan perempuan selama ini cenderung menjadi gerakan yang eksklusif. "Padahal, gerakan ini kan tidak bisa dilepaskan dari gerakan politik, misalnya. Jadi, jangan berjuang sendiri-sendiri. Ajak juga laki-laki yang feminis untuk memperjuangkan keadilan untuk perempuan," tandas pemain sinetron Bajaj Bajuri ini lagi.

Aktris yang juga punya ketegasan sikap dalam memperjuangkan isu-isu perempuan adalah Nurul Arifin (35). Dia termasuk artis yang pertama- tama merasakan ada sistem yang tidak adil terhadap perempuan. Apalagi dia berada dalam dunia sinetron yang membentuk stereotip perempuan yang bila bukan lemah, tidak berdaya, dan patuh, dia adalah jahat, culas, cerewet, konsumtif, dan terpenjara dalam lingkup domestik. Kalaupun ceritanya mengambil tokoh perempuan karier atau profesional, tidak pernah diceritakan bagaimana perjuangan dan gagasannya dalam karier, tetapi balik lagi ke stereotip di atas.

Keterlibatan Nurul dalam isu-isu perempuan berawal ketika dia ikut bermain dalam sinetron Kupu-kupu Ungu tahun 1996-1997 sebagai dokter yang menangani penderita AIDS. Setelah bermain dalam sinetron yang disponsori Yayasan Ford dan USAID itu, ibu dua anak ini merasa ada kebutuhan mencari tahu lebih jauh mengenai AIDS. Dari situ, dia lalu ikut kursus mengenai kesehatan reproduksi yang diselenggarakan FISIP Universitas Indonesia (UI) dengan beasiswa dari Yayasan Ford.

"Di situ aku belajar tentang relasi jender dan kesehatan reproduksi, dan aku baru benar-benar mudeng, terbuka banget pengetahuanku tentang relasi jender. Padahal, aku ini kan istilahnya cewek gaul, tetapi aku merasa surprise banget ada konstruksi sosial yang tidak adil terhadap perempuan. Aku enggak bisa bayangin bagaimana perempuan-perempuan di pelosok-pelosok yang tidak seberuntung aku punya pengetahuan mengenai ini," kata Nurul, yang kini tengah melanjutkan studi ilmu politik di S-1 FISIP UI.

Bersekolah lagi pun seperti suratan takdir yang memperkuat pengetahuannya sebelumnya. "Tiba-tiba aku sekolah lagi ambil ilmu politik. Pertimbanganku awalnya sederhana saja memilih jurusan itu. Ilmu politik karena tidak diminati perempuan, maka aku pasti diterima. Jadi, aku sering surprise sendiri kok semuanya jadi seperti sejalan," tambah Nurul, yang belakangan laris jadi bintang iklan.

MENCOBA konsisten dengan pemahamannya yang baru, Nurul jadi lebih teliti dalam melihat skenario yang ditawarkan kepada dia. Dia tidak segan untuk melakukan tawar-menawar dengan produser atau sutradara dan penulis skenario bila dia merasa ada peran yang menguatkan stereotip perempuan. "Saya enggak mau kalau disuruh menangis tanpa alasan yang kuat," kata Nurul, yang akhirnya selalu mendapat tawaran untuk peran perempuan mandiri.

Toh Nurul mengaku tidak mendapat kesulitan dengan para produser dan dia tetap mendapat tawaran bermain sinetron. "Saya malah punya bargaining position yang lebih baik, misalnya saya bisa bilang saya mau syuting setelah selesai jam kursus (tentang hak reproduksi)," kata Nurul. "Citra saya juga naik dalam iklan, kan."

Nurul berusaha menularkan pengetahuannya kepada teman-temannya sesama artis supaya mereka bisa ikut mengubah kondisi yang tradisional tentang perempuan dan mengubah sistem yang patriarki dalam industri film, tetapi dia mengaku sulit sekali. Bahkan, beberapa teman artis yang dia lihat berpikiran terbuka dan maju malah menciut ketika diajak berbicara soal ini.

"Padahal, aku sudah katakan feminisme itu bukan mau melebihi laki-laki, tetapi mau supaya kita sejajar. Yah, bagaimana ya, teman-teman sendiri sering menyindir ngapain mengurusi ini, tetapi aku sih cuek saja," kata Nurul diiringi derainya.

Ine Febriyanti juga tidak mau karena kepeduliannya pada isu-isu ketidakadilan terhadap perempuan lalu bertindak, menurut istilah dia, ekstrem. Yang dia maksud ekstrem itu antara lain tidak mau melahirkan, meninggalkan tanggung jawab sebagai ibu, tidak mau menikah. "Yang penting, keseimbangan antara hak dan kewajiban perempuan itu terjaga, tidak timpang dan tidak terjajah. Jangan atas nama kebebasan lalu bersikap sinis dan mengintimidasi laki-laki," ujarnya.

Pandangan yang senada juga dilontarkan Syaharani. "Perempuan itu secara kodrati diberi kelebihan untuk melahirkan kehidupan, tetapi dia juga bukan superwoman. Jadi, saya juga tidak setuju kalau perempuan lalu mengambil alih tugas laki-laki," katanya.

Tidak heran bila Rieke mengingatkan bahwa perempuan harus lebih yakin terhadap kemampuan dirinya dan menyadari meskipun hidup di dalam dunia yang didefinisikan laki-laki, nasib perempuan ada di tangan perempuan sendiri. "Tetapi, jangan bertindak berlebihan. Bertindaklah sebagaimana kita mengenal diri kita sendiri supaya tidak merugikan orang lain dan diri kita sendiri," kata penulis puisi ini. (CAN/XAR/NMP)


From Inside Indonesia magazine
www.insideindonesia.org/content/view/287/29/

Women’s voices in the arts
Women’s movement activists and artists unite
Max Lane


Last April around 100 activists, mainly women, united to organise the first women’s cultural festival to be held in Jakarta for several decades, at least. The festival began on 5 April and ended on 21 April, the birthday of Kartini, who wrote and campaigned on women’s rights at the beginning of the century. The momentum for the festival developed in April 2002 after activists from Solidaritas Perempuan (Women’s Solidarity for Human Rights), staged a performance of an adaptation of Nawal El Saadawi’s novel, Women at Point Zero, a story of the oppression of women in Egypt and that exulted in the spirit of a woman’s defiance of that oppression. It was a unique event also in that it brought together women’s movement activists, community arts activists, as well as TV actors and celebrities.

Two evening performances were sold out and a huge media discussion on women’s rights and sexuality was generated. The co-producers, Faiza Mardzoeki and Yenny Rosa Damayanti, decided to establish a new group, called Institut Ungu, a women’s art and culture centre. They were joined by two other activists as founders: Irina Dayasih and Nur Rachmi. The cultural festival, called Festival April, was Ungu’s first project.

In her report, Program Coordinator, Faiza Mardzoeki, estimated that around 5,000 people attended some component of the festival. The program comprised a film festival, showing more than 50 Indonesian and international films; a fine arts exhibition, with paintings and sculpture by 48 women artists, as well as a literary program and a series of discussions around the issue of the role of art in women’s liberation. It ended with an evening event comprising modern dance and musical performances, as well as public orations by well-known poet, Toety Heryati and novelist Dewi Lestari.

The festival operated at two levels. First, it was a showcase of women’s talent in all fields, sometimes raising issues of political and social commitment, sometimes apolitical or only indirectly so. The variety of talent that was revealed underscored the huge potential of artistic creativity among women and which is not recognised under conditions of general and systematic discrimination against women. Any collective effort of women artists to get their works before the public eye represents an important contribution to the struggle for women’s emancipation, whatever the individual political outlook on the issue of women’s liberation of each artist.

The paintings and sculptures from the 48 women represented works of artists based in Jakarta and the regions. Themes ranged from expressions of sexuality and sensualness, through to depictions of everyday life, as well as that of political protest and struggle.

The film festival also showed a great range of talent. This was especially seen in the exhibition of short films which has boomed with increased access to relatively inexpensive video technology. Most of the short films aimed to tell the stories of women’s experiences which clearly the film makers thought had been undervalued in society in general: daily life in the home; or a young woman’s first menstruation, for example. Among these too were films by women about general subjects: from the adventures of street children to problems of drug taking.

The discussions during the literary sub-festival and the day long seminar on the role of art in women’s liberation represented the other side of the event: the attempt to come to grips with the issue of repression and liberation itself and the role of the arts and literature as a weapon of liberation. The range and unevenness of views and ideas on this front was very evident. The Festival April was an interesting initiative in that the idea came from women’s movement activists rather than from writers or artists themselves. The Festival brought these two groups together: activists and artists, but sometimes they were only basically united on the issue of the need for solidarity among women to expand a place for women. Perhaps the sculptor, Dolorosa Sinaga, who spoke on the art and liberation panel was the main exception to this. Another writer, the dramatist Ratna Sarumpaet, who had written the drama around oppressed female figures, such as the murdered worker activist, Marsinah, and an oppressed Acehnese woman, Alia, also espoused a strong political position on human rights, but not so much in terms of gender oppression itself.

The Festival April as the first collective effort of women to present their voices through art, and a start to the discussion of how art can be used to further the struggle for women’s liberation. Two clear challenges were revealed by the festival: how to further develop and make accessible the huge artistic talent among women and how to win more of those women to the idea of using their talent in the political battle to end gender oppression.

Max Lane (max_lane@bigpond.com) is founding editor of Inside Indonesia and a Research Fellow at the Asia Research Centre, Murdoch University.

Copyright 1996-2009 © Inside Indonesia

TEATER NYAI ONTOSOROH (2006-2007)

SIARAN PERS

Pementasan Teater: Nyai Ontosoroh
Adaptasi dari novel Bumi Manusia karya novelis terbesar Indonesia Pramoedya Ananta Toer

12, 13, 14 Agustus 2007
Gedung Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta


Gagasan
Pertunjukan teater Nyai Ontosoroh pada awalnya diprakarsai oleh Faiza Mardzoeki sekaligus penulis naskahnya. Ia mengadaptasi novel Bumi Manusia karya Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer ke dalam naskah drama berjudul Nyai Ontosoroh. Ia sebelumnya pernah menggagas dan memproduksi teater berjudul Perempuan di Titik Nol, karya Feminist Mesir, Nawal El Saadawi, bersama aktivis perempuan dan seniman lainnya.

Munculnya gagasan “memanggungkan” buku Bumi Manusia karya Pram tersebut diawali dengan pemikiran buku tersebut penting dan menarik! Mengapa?

Novel Bumi Manusia berisi catatan perjalanan sejarah kita sebagai bangsa. Dan mengandung pelajaran-pelajaran penting sebagai perempuan, sebagai manusia. Saat membaca Bumi Manusia, kita bisa merefleksikan diri kita sendiri siapa kita, mengapa kita begini, lantas mau memilih tindakan apa? Hal ini tergambar secara jelas dalam tokoh perempuan Sanikem alias Nyai Ontosoroh, karakter yang dinarasikan oleh Minke – seorang sosok yang diinspirasikan oleh sang pemula kebangkitan pribumi sebagai awal kebangsaan, Tirto Adhisuryo.

Teater Nyai Ontosoroh adalah kisah perlawanan Sanikem, seorang perempuan yang dirampas kedaulatnnya justru oleh ayah kandungnya dan dihinakan oleh masyarakatnya. Ia menghadapi pergulatan hidup yang sesungguhya. Pengalaman dan lingkungannya telah menciptakan babak baru demi babak baru dalam hidupnya dan kemudian membentuk karakternya. Dalam upaya merebut kembali kedaulatannya Sanikem memilih jalan melawan. Kisah Nyai Ontosoroh dengan latar waktu Kolonial Belanda tetap aktual hinggá kini.

Karya bersama aktivis dan seniman
Pentas teater Nyai Ontosoroh di Jakarta, tanggal 12, 13 dan 14 Agustus 2007 di Gedung Graha Bhakti Budaya TIM, disutradarai oleh Wawan Sofwan, seorang sutradara yang telah berpengalaman panjang, sejak dari kelompok StudiKlub Bandung. Ia menggarap banyak pementasan drama karya klasik barat, terutama karya Betorl Brecht, di antaranya Kebangkitan Arturo Ui yang dapat dicegah, dan menyutradarai musical teater, HONK, serta pentas monolog di beberapa negara di kawasan Eropa dan Australia. Kali ini ia dibantu oleh Rin Threesa, seorang sutradara perempuan muda dengan semangat kerja mengagumkan.

Happy Salma, seorang artis dan penulis, yang juga dikenal sebagai penggemar berat karya Pram berperan sebagai Nyai Ontosoroh. Ia telah melakukan kerja keras dalam latihan-latihan yang ketat bersama aktor-aktor lain. Mereka termasuk Nuansa Ayu (Sanikem) Williem Bivers (Tuan Mellema), Temmy Mellianto (Minke), Madina Wowor (Annelies), Hendra Yan (Ir. Mauritsz), Restu Sinaga (Robert Mellema), Teuku R. Wikana (Robert Suhrof), Fellencia (Maiko), Harrist (Babah Ah Tjong), Joind Bayuwinanda (Bupati Brojonegoro), Bowo GP (Sastro Tomo), Pipien Putri (istri Sastro Tomo), Budi Ketjil (Darsam), Ayu Diah Pasha (Bunda Minke), Ayes Kassar (Jean Marrais) Sita RSD (Magda Peters), Rebecca Hensckhe, Rusman dan Rudi Wowor.

Teater Nyai Ontosoroh merupakan produksi bersama Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika dan Perguruan Rakyat Merdeka, bersifat non profit. Didukung oleh berbagai organisasi LSM, atara lain Elsam, Jari, Koalisi Perempuan Indonesia, Kalyanamitra, LBH APIK, Perkumpulan Praxis, Kontras, Komunitas Ciliwung, Perkumpulan Seni Indonesia, Pramoedya Institut, Solidaritas Perempuan, Voice of Human Rights dan Yappika

Pada tim managemen produksi, kerja kolaborasi ini diproduseri oleh Faiza Mardzoeki dan Andi K Yuwono, serta didukung oleh berbagai individu yang menggawangi terwujudnya pementasan, antara lain Irina Dayasih, Dewi Djaja, Yulia Evina Bhara, Vivi Widyawati, Tedjo Priyono, Katarina Puji Astuti, Efriza, Siti Ma’rifah, Ratnaningsih, Eko Bambang Subiantoro, Lilik Munafidah, Warsito, Sigit Pranowo, Agung Wirayudha, Sidarta, Ripana Puntarasa, Putri Miranda dan Myra Diarsi sebagai penanggung jawab.

Pementasan Teater Nyai Ontosoroh menjadi sebuah kerja budaya kolektif dari berbagai spektrum. Para aktivis, feminist, seniman teater, pemain film, pematung, perancang busana, musisi dan mereka yang baru memasuki dunia panggung. Kami beragam dan kami kerja bersama.

Selain kita bisa menikmati keasyikan cerita, permainan para aktor yang telah latihan berbulan-bulan, kita juga akan menyaksikan tata panggung yang dikerjakan oleh pematung perempuan terkemuka, Dolorosa Sinaga, dengan tim kerjanya Gallis AS, seorang seniman topeng yang juga telah banyak terlibat dalam proyek pementasan teater. Kita akan dibawa ke nuansa masa lampau dengan rancangan busana sekitar 40 pakaian masa kolonial yang dikerjakan oleh desainer Merdi Sihombing. Tata musik oleh musisi yang telah banyak menciptakan komposisi musik untuk film dan teater, Fahmi Alatas dengan tata suara oleh Mogan Pasaribu. Tata lampu dikerjakan oleh Aziz Dying dibantu Sari Suci dan laku gerak oleh koreografer perempuan, Pipien Putri. Ada lagi, Jerri Pattimana bertindak sebagai manager panggung.

Harapan kami, pementasan teater Nyai Ontosoroh bisa memberi sumbangan pemikiran dan renungan bagi proses berbudaya dan berbangsa di Indonesia serta bisa menjadi tontonan panggung yang apik.

Selamat menyaksikan !
Jakarta, 19 Juli 2007







Voices Of Human Rights Note on Nyai Ontosoroh (Ind)

Nyai Ontosoroh
Perjuangan Menuju Keberanian Melawan
16 Agustus 2007 - 17:48 WIB---VOICES OF HUMAN RIGHTS
Kurniawan Tri Yunanto



"Yang penting berani. Dan, jika kamu yakin ingin melakukan, lakukan saja."

Pesan Pramoedya Ananta Toer itu menjadi pegangan Faiza Mardzoeki untuk mengusung beban berat novel Bumi Manusia ke pentas teater. Kalimat sederhana itu membantu memahami dan mendalami karakter Nyai Ontosoroh untuk dipentaskan.

Dalam Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh yang nama aslinya Sanikem adalah sosok perempuan pribumi yang dengan gigih dan perih melawan tatanan sosial politik di era kolonial Belanda. Ketika baru beranjak remaja, kedaulatannya sebagai manusia dirampas oleh bapaknya. Dia dijual kepada Herman Mellema, Belanda totok yang punya kuasa harta.

Dalam penyerahan diri itu Sanikem belajar keras menyerap "ilmu Eropa" untuk membuka jalan terang masa depan. Perjuangan diam-diam itu membentuk pribadi yang kuat untuk zamannya. Terinspirasi kekuatan itulah Faiza berani mementaskan semangat perlawanan Nyai Ontosoroh ke panggung teater.

Apalagi tema perlawanan perempuan dalam novel awal dari tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca itu masih relevan dengan kondisi saat ini. Tetap saja terjadi kekerasan dalam rumah tangga, penindasan perempuan oleh struktur sosial, perdagangan perempuan, dan penindasan tenaga kerja Indonesia yang sebagian besar adalah perempuan. "Tujuan utama teater ini sebenarnya kampanye soal perempuan. Soal ketertindasan perempuan. Dan Ontosoroh telah berhasil melawan itu," kata Andi K Yuwono, produser pentas Nyai Ontosoroh.

Rencana pementasan teater ini berawal pada tahun 2002, setelah Faiza mementaskan Perempuan di Titik Nol, adaptasi novel feminis Nawal El Sadawi. Sampai tahun 2004, niat ini hanya sebatas diskusi dengan beberapa kalangan. Selama dua tahun pergulatan itu tak melahirkan apa-apa. Saat di Australia, Faiza gelisah dan berpikir ulang untuk memanggungkan Nyai Ontosoroh. Dia pulang ke tanah air lalu kembali "bergerilya" dan berdiskusi dengan beberapa LSM, kelompok teater, dan seniman. "Saya bergerilya dan banyak sekali mendapat masukan. Hampir semua kalangan cukup bersemangat dan mendukung pementasan ini. Pertengahan 2005 saya mulai mencari tim," ujar Faiza.

Dengan Andi, Faiza sadar proyek ini tidak bisa dilakukan sendiri, tapi harus melalui kerja kolektif. Akhirnya terjalin kerja sama dengan Perguruan Rakyat Merdeka, Perempuan Mahardika, serta Institute Ungu, dan menjadi motor penggerak pertama.

Persiapan pentas Nyai Ontosoroh menguras tenaga dan pengorbanan. Beberapa kendala muncul. Misalnya, 50 hari menjelang pementasan pada April lalu, sutradara Ken Zuraida mengundurkan diri. "Kami menerima saja, tapi dengan catatan proyek ini harus jalan. Karena prosesnya sudah sangat lama. Tentu saja pengunduran ini membuat kami down. Belum lagi biaya yang terpakai sudah banyak. Tapi sama sekali tidak menyurutkan niatan untuk memanggungkan Bumi Manusia," kata Faiza.

Kenapa Ken Zuraida mengundurkan diri dari proses yang sudah berjalan? Menurut Andi, selama proses produksi memang sering terganggu komunikasi di antara sesama anggota tim.

Akhirnya tim menemukan Wawan Sofwan sebagai sutradara pengganti. Bersama sutradara asal Bandung ini, tim kerja mulai dari nol lagi. Riset mulai dilakukan. Misalnya pakaian untuk pentas. "Karena ini kerja agak mempertanggungjawabkan, mesti riset segala. Peristiwanya kan terjadi pada masa lalu. Sebagai desainer, saya harus tahu jenis kain yang kira-kira dipakai pada peristiwa itu," kata Merdi Sihombing, fashion designer.

Tidak hanya keluar masuk pasar, Merdi juga berburu jenis kain yang mendekati di Pasar Klewer, Solo. Karena teater merupakan pengalaman pertamanya, Mergi juga mencari referensi melalui buku-buku dan beberapa film pada tahun 1903 yang mendekati peristiwa yang digambarkan Pram.

Dolorosa Sinaga juga mengaku bekerja keras untuk tata panggung. Meski penggambaran situasi dalam novelnya sangat realis, dia memilih konsep minimalis untuk tata panggung pentas teater ini. "Formatnya sangat minimalis, tidak pernah membayangkan setting ini akan menjadi sangat realis. Jadi, barang yang diperlukan di panggung, meja, kursi, tempat tidur, pengadaannya tidak perlu sama. Cukup mendekati saja," ujarnya.

Sutradara Wawan Sofwan juga memerlukan riset mendalam. Dia tidak begitu saja menerima tawaran untuk menjadi sutradara. Dia mempelajari naskah Faiza dan membaca ulang Bumi Manusia. Akhirnya dia menerima tanggung jawab itu. "Pengorbanan yang tampak selama proses latihan adalah pengorbanan ego. Saya selalu bilang kepada seluruh pemain, ini kerja yang mengandalkan hati. Karena kita tidak dibayar untuk memanggungkan Nyai Ontosoroh. Jadi, harus dibarengi ketulusan. Itu yang membuat saya agak gemetar. Tapi akhirnya bisa terbangun," katanya.

Wawan sadar, empat bulan waktu yang pendek. Apalagi dia menerima tawaran dalam kondisi pemain yang tidak sepenuhnya siap, baik dari sisi kebutuhan pemain maupun sisi skill pemain. Casting kembali dilakukan untuk mendapatkan karakter pemain yang pas. Secara umum dari 20 pemain yang terlibat tidak mempunyai dasar teater.

Karena naskah cukup fragmentatif, Wawan menemukan solusi untuk mengolah para pemain. "Ini kan terdiri dari 31 adegan. Ada 23 adegan tidak perlu latihan dengan melibatkan banyak pemain. Kalau adegan yang membutuhkan banyak pemain, biasanya dilakukan pada malam hari. Kalau Happy itu bisa dari pagi sampai malam."

Tantangan terbesar dari 31 adegan ini adalah adegan flash back perjalanan hidup Sanikem kecil menjadi Nyai Ontosoroh. Sebab, menurut Wawan, esensi keseluruhan adegan adalah adegan flash back ketika awal perlawanan Ontosoroh. "Di situ harus ada titik temu, supaya antar-adegan bisa nyambung. Itu harus dilatih agar menemukan jembatannya."

Yang tidak kalah penting pembentukan karakter Nyai Ontosoroh. Dalam novel, sosok karakter Ontosoroh sangat kuat sekaligus dingin dan sinis. Namun, dalam pentas ada beberapa adegan yang justru cenderung menunjukkan kelembutannya. Wawan mencoba melihat dari sisi ini. Karena sifat keras Nyai hanya muncul dalam persoalan tertentu.

Dalam proyek besar ini, menurut produser telah menghabiskan tak kurang dari Rp 500juta, publik ternyata lebih terfokus pada akting Happy Salma yang memerankan Nyai Ontosoroh. Meski baru pertama kali terjun di dunia teater, akting Happy cukup memberikan harapan. Pilihannya memerankan Nyai Ontosoroh rupanya tidak sia-sia.

Awalnya, setelah Ken mengundurkan diri dan terjadi kevacuman, Happy berencana ke Eropa. Namun dia memutuskan menunda setelah membaca naskah pentas dan Bumi Manusia kembali. Selama 2,5 bulan, dia bekerja ekstra untuk penghayatan dan menguasai dialog secara maksimal. Dia berlatih dari pagi hingga malam."Ada di dialognya. Tiga jam dengan dialog panjang dan setiap dialog penting. Bahkan, sampai titik komanya, karena itu berpengaruh pada penyampaiannya. Jadi, memang butuh konstrasi lebih. Yang pasti 2,5 bulan aku total. Kerjaanku di TV aku kurangi. Setiap hari aku latihan," tuturnya.

Pertunjukan tiga malam 12-14 Agustus itu dirasa sukses. Max Lane, yang menerjemahkan karya Pram ke bahasa Inggris, mengaku puas atas pentas Nyai Ontosoroh. Menurut dia, hampir semua pesan Bumi Manusia tersampaikan di panggung. Kita tidak akan sepenuhnya kalah kalau melawan, salah satu pesan yang sangat kuat dalam novelnya, sangat jelas dinyatakan di atas panggung bahwa melawan itu untuk membangun karakter.

Max mencontohkan, perempuan masih diperjualbelikan, kepentingan orang Barat lebih dipentingkan daripada hak penduduk Indonesia, praktik feodal masih berlaku, dan orang kecil tidak bisa berperkara di pengadilan. Namun, dia menyayangkan pesan yang tidak bisa dibaca secara langsung dalam buku Pram, tidak berhasil diungkapkan dalam teater. Pesan itu adalah Indonesia merupakan pembentukan manusia baru melalui perlawanan. Kalau pembangunan watak melalui perlawanan itu ditinggalkan, Indonesia akan bubar. Karena situasi Indonesia menuntut sebuah perlawanan

Menurut Max, Nyai Ontosoroh bukan tontonan orang malas, karena penonton dituntut konsentrasi, seperti halnya dengan novelnya. "Kalau orang masuk dan berpikir akan terhibur, itu salah. Karena orang nonton adegan ini, keluar pasti capek karena dituntut konsentrasi. Setiap kalimat mengandung makna. Karena jiwa dari sandiwara dan novelnya itu memang menuntut keberanian. Jangan mau menyerah dan harus melawan, baik melawan kekuasaan maupun situasi."

Jadi, bila ada penonton serius yang belum menemukan keindahan dan pencapaian artistik sebuah teater dari pentas Nyai Ontosoroh, maaf saja. Karena muatan pesan lebih tampak mendesak-desak ke permukaan. Bahkan, gong penutup "Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." jadi kurang mencekam-dalam, karena "dihancurkan" terlebih dahulu oleh baliho besar kalimat itu di samping panggung. (E4)
Foto-foto: Kurniawan TY/VHRmedia.com
©2007 VHRmedia.com



SWARA-KOMPAS
Senin, 13 Agustus 2007

Perempuan dalam Teater


Ilham Khoiri

Strategi gerakan perempuan di Indonesia semakin meluaskan sayap. Jika sebelumnya lebih berkutat pada advokasi lewat lembaga swadaya masyarakat, kini sebagian aktivis semakin memperlebar jangkauan "kampanye" lewat seni teater. Tapi, sejauh mana efektivitasnya?

Pertunjukan teater dengan lakon Nyai Ontosoroh mencoba merambah wilayah ini. Pentas yang dijadwalkan 12-14 Agustus di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, itu diproduksi Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, dan Perguruan Rakyat Merdeka.

Kenapa pertunjukan itu mencerminkan perluasan wilayah gerakan perempuan? Pertama-tama, itu menyangkut pilihan tema. Naskah Nyai Ontosoroh, yang ditulis Faiza Mardzoeki, adalah adaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (terbit tahun 1980). Salah satu tetralogi Pulau Buru itu menggambarkan perjuangan tokoh perempuan, Nyai Ontosoroh, yang melawan ketidakadilan.

Ontosoroh adalah Sanikem, gadis cantik asal Tulangan, Sidoarjo. Saat berusia 14 tahun, dia dijual oleh ayahnya sendiri kepada pengusaha Belanda di Surabaya, Herman Mellema. Sanikem pun dijadikan gundik.

Penderitaan justru membuat Sanikem bangkit, lantas mempelajari tata niaga, bahasa Belanda, dan hukum. Perempuan desa itu pun berubah menjadi seorang nyai modern yang piawai menjalankan perusahaan dan dikenal sebagai Nyai Ontosoroh.

Minke, seorang siswa HBS, tertarik dengan kepintaran Ontosoroh, kemudian menjalin asmara dengan putrinya yang jelita tapi rapuh, Annelies. Sayang, setelah Herman Mellema meninggal, pengadilan kolonial memutuskan, gadis itu harus dipulangkan ke Belanda. Meski kalah dan didiskriminasi, Ontosoroh gigih melawan.

Aktual

Walaupun ditulis dengan latar belakang zaman kolonial di Surabaya tahun 1898, semangat Ontosoroh tetap relevan untuk zaman sekarang. Karya ini memberikan inspirasi, bagaimana perempuan tidak menyerah pada nasib atau situasi yang diskriminatif, melainkan berjuang mengembangkan sumber daya dan aspirasinya sendiri.

"Sampai sekarang, kaum perempuan di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, seperti trafficking atau penjualan anak perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, dan diskriminasi. Kisah itu masih aktual karena menularkan spirit untuk melawan ketidakadilan," kata Faiza Mardzoeki yang juga menjadi koordinator program Institut Ungu itu.

Pementasan Ontosoroh dikerjakan dengan kolaborasi antara sejumlah aktivis perempuan, seniman teater, pematung, artis, perancang busana, dan sejumlah orang yang perhatian pada gerakan perempuan. Artis Happy Salma, misalnya, memerankan tokoh Ontosoroh. Temmy Mellianto memainkan Minke, Madina Wowor sebagai Annelies, dan aktor teater Budi Ketjil menjadi Darsam—pendekar penjaga keluarga Ontosoroh.

Penyutradaraan ditangani Wawan Sofwan, tata panggung oleh pematung perempuan, Dolorosa Sinaga. Desainer Merdi Sihombing mengerjakan tata busana, sedangkan musisi Fahmi Alatas menata musik. Dengan komposisi yang melibatkan banyak orang dengan kesibukan bermacam-macam, kolaborasi itu tentu makan proses panjang dengan program latihan yang sulit.

"Mungkin karena cintalah, akhirnya kami semua mau bersusah payah mewujudkan pentas ini. Saya sendiri sampai menolak beberapa tawaran job demi berkonsentrasi latihan," kata Happy Salma seusai latihan di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu (8/8) malam.

Lanjutan

Gagasan untuk mementaskan novel perempuan dalam bentuk teater pernah dilakukan Faiza dengan mengadaptasi novel Perempuan di Titik Nol karya feminis Mesir, Nawal el Saadawi, dalam pentas teater di TIM, Jakarta, tahun 2002. Saat itu, aktris Nurul Arifin dan Ria Irawan ikut naik panggung.

Kerja serupa pernah dilakoni sejumlah aktivis perempuan di Tanah Air. Tahun 1999, misalnya, Makassar Arts Forum (MAF) mementaskan teater Ketika Kita Kaku di Gedung Societeit de Harmonie, Ujungpandang. Karya Arman Dewarti ini mengungkap dominasi lelaki dan kekerasan yang dialami kaum hawa.

Tahun 2000, Satu Merah Panggung pimpinan Ratna Sarumpaet menggelar lakon Alia, Luka Serambi Mekah di TIM, Jakarta. Kisah ini menceritakan perlawanan perempuan terhadap orang-orang bersenjata di Aceh. Tahun 2001, lakon Bom Waktu Perempuan oleh Teater Kita Makassar dan LBH-Pemberdayaan Perempuan Indonesia juga menyoal realitas kekerasan terhadap perempuan.

Tahun 2002, Koalisi Perempuan Indonesia menggelar pentas monolog berjudul Vagina Monolog dengan naskah asli karangan Eve Ensler. Tahun itu juga, Teater Perempuan Independen pimpinan Lena Simanjuntak menggerakkan para perempuan pedesaan untuk memainkan lakon Suara dan Suara di Taman Budaya, Medan. Sebelumnya, Luna menggiatkan pentas teater yang melibatkan pekerja seks di Surabaya melalui Program Hotline Surabaya AntiAids.

>newarea 1< Fenomena yang semakin menguat ini setidaknya memperlihatkan, sebagian kalangan masih yakin, panggung teater tetap efektif untuk menyuarakan gagasan feminisme dan kesadaran jender di tengah masyarakat. Kisah-kisah perlawanan perempuan yang inspiratif akan semakin mudah ditangkap penonton melalui adegan, dialog, dan visual secara langsung. Gagasan berat pun bisa diolah dan disajikan dengan lebih jelas.

Soal penggarapan sisi seni teaternya, itu memang jadi tantangan tersendiri. Bagaimanapun, kerja seni teater tetap menghajatkan kemampuan menggarap gagasan, naskah, dramaturgi, estetika di atas panggung, dan teknis matang yang membuat pergelaran menjadi pentas seni yang menarik. Jika para aktivis perempuan itu tak mengelolanya dengan maksimal, bisa jadi seni teater malah terpasung oleh slogan kampanye yang gagah.

Untuk pentas Ontosoroh, setidaknya masyarakat sudah menunjukkan minat yang besar. Beberapa hari menjelang hari-H, sekitar 2.400 tiket pertunjukan Nyai Ontosoroh seharga Rp 30.000-Rp 100.000 per satu tiket hampir habis terjual. Apakah semangat gerakan perempuan dan kolaborasi mereka berhasil di atas panggung? Ya, kita tonton saja.










KOMPAS. Jumat, 27 Oktober 2006

Gugatan terhadap Subordinasi Perempuan



Jakarta, Kompas - Teater atau genre sastra lakon masih diyakini sebagai alat yang artikulatif untuk menyampaikan pesan, gagasan, bahkan gugatan. Garapan teater bertajuk Nyai Ontosoroh yang masih dalam persiapan termasuk yang menyampaikan gugatan terhadap subordinasi perempuan.

Demikian penjelasan Faiza Mardzoeki, penulis lakon Nyai Ontosoroh di Jakarta, Kamis (26/10). Menurut rencana naskah itu akan dipentaskan di 13 kota antara Desember 2006 dan Maret 2007 oleh grup teater yang berbeda-beda. Di Jakarta, pementasan Nyai Ontosoroh akan dilaksanakan April 2007, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Lakon Nyai Ontosoroh, kata Faiza, merupakan naskah yang disadur dari roman Bumi Manusia karya almarhum Pramoedya Ananta Toer. Buku tersebut merupakan bagian dari tetralogi Pulau Buru.
Tokoh Nyai Ontosoroh dalam buku karya Pram tersebut digambarkan sebagai nyai dari seorang Belanda.

Di tengah stigma seorang nyai sebagai orang yang tidak punya norma kesusilaan lantaran menjadi istri simpanan, Nyai Ontosoroh berhasil mengelola peternakan dan perkebunan.
Nyai Ontosoroh pula yang kemudian berpengaruh besar kepada Minke. Minke kemudian menjadi penulis yang karya-karyanya berani dan menggugat penindasan oleh penjajah.
Faiza Mardzoeki yang merangkap sebagai produser pertunjukan mengungkapkan, Nyai Ontosoroh mempunyai peranan dalam proses pembangunan bangsa, termasuk dalam kelompok perempuan maju.

”Mereka tertindas, tetapi punya potensi untuk menyerap pengetahuan dari tuan-tuannya yang umumnya berperadaban Eropa,” ujarnya.
Faiza melihat apa yang dialami Nyai Ontosoroh masih relevan dengan kondisi saat ini. Walaupun, sudah banyak kemajuan, peranan dan pengakuan terhadap perempuan masih menjadi persoalan pelik.

Faiza yakin teater merupakan bentuk ekspresi seni yang baik untuk menyampaikan gagasan tertentu.
Dia berharap gugatan peran perempuan dalam pementasan tersebut nantinya dapat disampaikan. Apalagi, di ranah seni teater, masih sedikit yang mengangkat tema-tema perempuan.
”Teater mampu berinteraksi langsung dengan audiensnya,” kata Faiza yang pernah mementaskan Perempuan Di Titik Nol karya penulis perempuan Nawal El-Sadawi, dan terbilang sukses.

Sementara itu sutradara Ken Zuraida dari Bengkel Teater menyatakan tertarik menyutradai pementasan naskah itu tidak semata karena menyadur karya penulis besar Pramoedya Ananta Toer. Naskah itu menggugat peran perempuan yang subordinatif dan masih relevan sampai kini. ”Saya merasa tertantang untuk menerjemahkan tokoh Nyai Ontosoroh di atas panggung,” ujar dia.

Para pemain telah terpilih dan saat ini telah memasuki masa latihan. Tokoh Nyai Ontosoroh akan diperankan oleh Hapy Salma, tokoh Minke diperankan David Chalik, Magda Peters diperankan Ine Febriyanti, dan tokoh Anellis dimainkan Maryam Supraba.

Adapun tokoh Acong akan diperankan Edi Haryono, tokoh Darsam akan diperankan Zainal Abidin Domba, dan Jean Marais diperankan Agus Herman Susanto. (INE)


The Jakarta Post, 12 August 2007

'Nyai Ontosoroh' to be staged in Jakarta
Kurniawan Hari, The Jakarta Post, Jakarta


After being performed in eight cities in Java, Kalimantan and Sumatra, a play titled Nyai Ontosoroh will be staged for Jakartans at the Taman Ismail Marzuki arts center in Central Jakarta on Aug. 12-14.

Written by scriptwriter/producer Faiza Mardzoeki, Nyai Ontosoroh is an adaptation of Bumi Manusia (This Earth of Mankind), a novel by renowned author Pramoedya Ananta Toer.
"Nyai Ontosoroh is a figure in the novel who has a strong personality. She provides inspiration. Overall, the novel has some dramatic elements that drove me to bring them to the stage," Faiza told a media conference Friday.

Bumi Manusia, Faiza said, is a very interesting novel as it provides historical information about Indonesia. It also presents the struggle of a woman against subordination in colonial times, she explained.
Considered by Soeharto as promoting leftist ideology, many of Pramoedya's works were banned. Although the restrictions still exist today, people can easily find Pramoedya's works in bookstores.

An fan of Pramoedya's works, Faiza spent almost two years on the script. After finishing it, she then offered it to theater troupes in several cities.
To her surprise, most of the theater troupes she met gave positive responses and staged the play between December 2006 and March 2007.

"The show in Jakarta will be the climax," Faiza said.
For this project, Faiza has worked together with director Wawan Sofwan and co-producer Andi K. Yuwono. The main character, Nyai Ontosoroh, will be played by artist Happy Salma, who is also an admirer of Pramoedya.
Wawan said he immediately accepted the job when he was asked to direct Nyai Ontosoroh in March.
"I accepted the offer as I liked the script. We had four months for rehearsal. I appreciate the good cooperation among team members. We will do our best for the audience," he said.
Meanwhile, Andi hailed the hard work of all 125 crew members, and expressed the hope that the audience would enjoy the performance.

According to Faiza, the Jakarta audience has been enthusiastic about the play. About 80 percent of the tickets for the three-day performance have been sold out.
Nyai Ontosoroh is a joint production by several non-governmental organizations, and has been sponsored by a number of private firms and foreign embassies.
printer friendly

PEREMPUAN MENUNTUT MALAM/WOMEN SEIZE THE NIGHT (2008)

MENGGUGAT KESUMPEKAN-Liputan Kompas "Perempuan Menuntut Malam"

MONOLOG
Menggugat Kesumpekan

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO / Kompas Images
Rieke Diah Pitaloka bermonolog dalam Pentas Teater Monolog Perempuan Menuntut Malam; tentang Rumah, Cinta, Seks, Politik, dan Kekuasaan bersama Niniek L Karim dan Ria Irawan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat ( 7/3 ) .

Minggu, 9 Maret 2008 | 09:10 WIB
Ilham Khoiri

Apa yang bakal terjadi ketika ibu rumah tangga, perempuan politisi, dan pekerja seks komersial diberi ruang untuk mengeluarkan unek-uneknya? Ketiga perempuan berprofesi beda-beda itu ternyata sama-sama menggugat kondisi sosial-politik negeri ini yang masih saja menekan kaum perempuan.

Gugatan itu kental terasa pada pertunjukan teater monolog bertajuk Perempuan Menuntut Malam di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8-9 Maret malam. Pentas yang diproduksi Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka itu menampilkan Niniek L Karim, Rieke Diah Pitaloka, dan Ria Irawan. Naskah ditulis Rieke dan Faiza Madzoeki.

Niniek, Rieke, dan Ria masing- masing memerankan tokoh ibu rumah tangga, politisi anggota parlemen, dan pekerja seks komersial (PSK). Ketiganya bergulat dengan persoalan sendiri-sendiri. Namun, persoalan itu akhirnya sama-sama berakar pada budaya patriarki yang masih saja menempatkan perempuan sebagai korban.

Lewat omelan saat memasak nasi goreng, seorang ibu rumah tangga bernama Ratna (diperankan Niniek L Karim) mengeluhkan lakon kekerasan dalam rumah tangga. Dia bercerita, awalnya kehidupan rumah tangganya dengan Mas Toni membahagiakan. Namun, lama-lama lelaki itu mulai kasar, bahkan main pukul. Ratna pun kabur.

Rupanya nasib buruk juga menimpa anak-anak Ratna, May, yang jadi korban kekerasan suaminya. Sang ibu pun membujuk anaknya agar mau meninggalkan suami yang kasar itu. Katanya, ”Cinta suami itu semestinya membahagiakan, bukan malah menindas istri dan anak-anak!”

Dalam sudut pandang berbeda, Rieke memainkan tokoh perempuan politisi yang mandi sambil menggerutui berbagai isu politik. Meski era kebebasan telah tiba, tetapi dunia politik—yang dihegemoni kaum lelaki—masih saja menyudutkan perempuan. Buktinya, meski jadi anggota parlemen, tokoh perempuan itu masih saja ditanyai soal-soal rumah tangga.

”Saat masih lajang, saya ditanya-tanya, kapan menikah? Setelah menikah, ditanya lagi, kapan punya anak? Giliran punya anak, eh malah banyak yang membicarakan, kok ibu itu sibuk sampai anaknya enggak keurus!”

Di belahan dunia yang lain, seorang PSK bernama Mariam (Ria Irawan) juga mempersoalkan perlakuan aparat negara, kaum agama, dan masyarakat umum yang selalu menyudutkan pekerja seks seperti dirinya. Padahal, Mariam terpaksa menjalani profesi itu setelah ibunya dibakar massa karena dituduh jadi pelacur, dan dia sendiri diperkosa oleh lelaki yang menggerebek ibunya.

Sumpek

Di luar soal-soal perempuan yang sudah kerap diwacanakan di negeri ini, monolog Perempuan Menuntut Malam punya momentum tersendiri. Sebagaimana pentas Sidang Susila oleh Teater Gandrik di tempat yang sama, pertengahan Februari lalu, monolog ini sama-sama bersemangat menyuarakan aspirasi kebebasan yang belakangan hendak dibatasi oleh sebagian masyarakat.

Memang, perubahan radikal tengah terjadi pada bangsa ini. Reformasi tahun 1998 telah melengserkan rezim otoriter Orde Baru dan menggantinya dengan masa penuh kebebasan. Namun, pergeseran yang mendadak itu juga memicu masa transisi.

Satu sisi, kebebasan memberikan keleluasaan bagi semua lapisan masyarakat untuk berpendapat. Pada sisi lain, kebebasan itu memicu pertarungan, bahkan memungkinkan pemaksaan kehendak. Kenyataannya, ada kelompok-kelompok yang berusaha membakukan pandangan normatif, bahkan tafsir teks agamanya, dalam peraturan legal.

Lewat aturan itu, setiap sendi kehidupan (pola pikir, perilaku, dan material kebudayaan) masyarakat, termasuk perempuan, hendak diarahkan untuk dikontrol oleh negara. Situasi ini meresahkan seniman yang menyadari, bahwa di balik wacana normatif itu, sebenarnya telah bermain—meminjam istilah Michael Foucault—relasi kuasa. Kekuasaan yang hendak menghegemoni kebenaran demi kepentingan kelompok tertentu.


”Nasi rames”


Penonton yang terbiasa menyaksikan monolog yang mengisahkan satu cerita utuh mungkin tak mudah menangkap fokus dari monolog Perempuan Menuntut Malam. Dengan menghadirkan tiga perempuan beserta tiga omelannya yang panjang-lebar, maka pentas sekitar dua jam itu akhirnya disesaki berbagai masalah yang bertumpuk-tumpuk. Kisah mereka menjadi fragmen- fragmen persoalan yang bertebaran di mana-mana.

Naskah yang bertendensi memuntahkan semua unek-unek perempuan dalam satu pentas, apalagi tanpa dibarengi banyak interaksi yang menyegarkan penonton, membuat monolog itu terasa berat atau datar begitu saja. Tak ada satu kisah menyentuh yang akhirnya benar-benar nyantol di kepala penonton untuk dibawa pulang.

”Memang, terlalu banyak yang ingin kami sampaikan. Jadinya kayak ’nasi rames’ ya. Tapi, bukankah persoalan perempuan memang bermacam-macam kayak nasi rames?” kata Niniek L Karim.

Untunglah, sutradara Zuki a.k.a. Kill the DJ cukup bisa mencairkan masalah itu. Panggung ditata minimalis dengan latar belakang lima layar putih yang besar. Layar itu diisi gambar-gambar adegan yang memperkuat naskah. Ada siaran televisi tentang kekerasan terhadap perempuan, ibu rumah tangga memotong bumbu, siluet Rieke yang mandi, atau lalu lintas di sudut jalanan yang biasa digunakan untuk mangkal para PSK.

Musik dan setting panggung yang disuaikan dengan tema yang dibicarakan turut memperkuat monolog. Setting jalanan dan musik dangdut koplo, misalnya, semakin mematangkan akting Ria Irawan yang bisa menghidupkan sosok pelacur yang penuh dendam akibat ibunya jadi korban kemarahan massa, suka bicara ngaco, tetapi kritis terhadap keadaan.

”Saya berusaha menggarap monolog menjadi peristiwa teater yang menarik,” kata Zuki. Seniman asal Yogyakarta ini pernah sukses menjadi pengarah dramaturgi untuk pentas Monolog Sarimin yang dimainkan Butet Kertaredjasa tahun 2007 lalu.


Kompas, Cetak,
PROSES
Naskah Direvisi Terus
Minggu, 9 Maret 2008 | 09:11 WIB



Lihat saja muka saya yang stres ini. Tiga hari lalu, naskah monolog masih direvisi lagi. Padahal, sebelumnya sudah direvisi berulang-ulang,” kata Rieke Diah Pitaloka saat jumpa pers di Galeri Cemara, Menteng, Rabu (5/3) sore.
Komentar itu dilontarkan Rieke untuk menggambarkan betapa proses produksi Teater Monolog Perempuan Menuntut Malam yang digelar untuk menyambut Hari Perempuan Sedunia itu tidaklah mudah. Bersama Faiza Madzokei, Rieke menulis naskah monolog pertamanya itu.

Naskah itu bermula dari bincang-bincang kedua perempuan itu sekitar November 2007. Kebetulan saat itu Faiza yang aktif mengelola Institut Ungu baru saja sukses mementaskan teater Nyai Ontosoroh di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Keduanya lantas sepakat untuk membuat naskah monolog yang menyuarakan aspirasi perempuan yang tersudut oleh negara, oleh tubuhnya sendiri, dan oleh urusan rumah tangga. Untuk memperkuat data-data, keduanya membuat survei di media massa, menemui korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ngobrol dengan pekerja seks komersial dan para aktivis perempuan.

Ternyata persoalan perempuan yang akan diangkat dalam monolog semakin banyak saja. Contohnya, Rancangan Undang-Undang Pornografi yang terus jadi bahan kontroversi. Muncul juga kasus Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2005 tentang Pelarangan Pelacuran di Kota Tangerang yang ternyata sempat digunakan untuk menangkap seorang perempuan pekerja yang pulang malam.

”Monolog kami anggap efektif karena bisa jadi cerminan bagi perempuan untuk melihat persoalan dirinya sendiri,” kata Faiza.

Sambil menyempurnakan naskah, tim dari Institut Ungu dan Yayasan Pitaloka berjibaku untuk mencari dana dari berbagai sumber. Untunglah, menjelang hari ”H”, dana sekitar Rp 500 juta yang dibutuhkan untuk pentas akhirnya terkumpul. Sebagian dana lagi diperoleh dari penjualan tiket seharga dari Rp 25.000 sampai Rp 100.000 yang sudah banyak dipesan sebelum hari-hari pentas.

Perempuan Menuntut Malam juga akan dipentaskan di Banda Aceh, 24 Maret, dan di Taman Budaya Bandung, 28-29 Maret. Khusus untuk pentas di Bandung dan Aceh, Ria Irawan bakal digantikan Maryam Supraba. Naskah Rieka-Faiza akan dilengkapi naskah baru tentang perkawinan di bawah tangan yang ditulis Tati Krisnawaty. (iam)


LATAR PEMIKIRAN "PEREMPUAN MENUNTUT MALAM"

Concept

Violence against women continues. Violence is always close to all women, of all classes, from the poor, middle class to the upper class. Violence against women occurs in all times and places: in private space, domestic locations, public places, and workplaces. It is embodied in laws hiding behind traditional cultural norms and the idea of destiny, making this violence seem normal, something that women should accept.

Many do not yet grasp that this thinking in society can be removed, can be resisted. It is indeed a big challenge to convince people that these prejudices and stereotypes against women can be changed, and that women have the right to live their lives free of violence.

So there must be the media and the maximum space to speak out that such discrimination can be ended. One medium can be artistic activity, including theatre.
Theatre is an alternative creative media for the innovative and unique articulation of women’s rights. Performance arts can reach a wide audience, including indeed the mainstream world, the general public. Those from the general public who come to enjoy performances can in turn become voices for the ideas of women’s equality and progress.

Apart from the audience, these theatrical activities also draw in the participating artists and the media. These two sectors of society have the potential to bring significant influence on society.


Cooperation between Institut Ungu and Yayasan Pitaloka

The choice of theatre was the basis of collaboration between Institut Ungu and Yayasan Pitaloka. Institut Ungu, working to promote the rights and advance of women through art and culture, shared similar ideas with Yayasan Pitaloka, which is concerned with the issues of equality and democracy in Indonesia.

Together three sets of activities were planned:
 Performing the Theatrical Monologues “Women Seize the Night” in Jakarta, Banda Aceh and Bandung.
 Organising a poster exhibition on the Women’s Movement in Indonesia, at Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta
 A Public Forum with the theme: “Quo Vadis Indonesian Women’s Movement?”



I. Performing The Theatrical Monologues “Women Seize the Night

The Manuscript

“Women Seize the Night”, comprised 4 manuscripts – with three being performed at each performance. Three were written by Faiza Mardzoeki and Rieke Diah Pitaloka. These were: “A Plate of Fried Rice”, “Under a street light”, and “A busy morning”. “The dance of the Empu” was written by Tati Krisnawaty.
These performances entitled “Women Seize the Night” was inspired by the “Reclaim The night” movement organized by activists in Rome in 1976. Around 10,000 women and children turned out on the streets to demand and end to sexual violence against women and children. This was a movement of “Breaking the silence of Men Sexual’s Violence”. This movement has now spread to many other countries.
In patriarchal societies, violence against women finds form in almost every corner of life. These plays have emerged from rejection of this.

The writing process involved various activities, and not just sitting with a laptop at a desk. There was a process of interaction with friends and colleagues, with ideas and suggestions, responses to what was in the media, communicating via SMS and telephone. This proceeded from November until the present moment.
During rehearsals also, the scripts were not static words on paper but underwent changes here and there, with more suggestions, from the actors but also from other members of the crew.

“Women Seize the Night” wants to communicate the message that all women have the right to be free of fear; to be free from all forms of violence and have the right to full participation in the public arena.

Synopsis

“A busy morning”, tells the story of Ani, (Rieke Diah Pitaloka), a politician, and also a wife and mother. The media is always biased in their treatment of her: and so to society and her fellow members of parliament. “Is everything alright at home? You seem so busy doing other things …….?”

“A plate of fried rice”, relates the experiences of Ranti (Ninik L Karim), a housewife who discovers that her daughter is suffering the same fate she once suffered. She is being physically abused by her husband. The dialogue between mother and daughter ranges over love and her husband, and is the beginning of a new consciousness for them …

“Under The Street Light”, tells of Khadijah (Ria Irawan), a commercial sex worker arrested several times while on the street. One day, during a raid, one of her customers joins the gang which raids the area where she works. She muses savagely on the hypocrisy of the patriarchal society she lives in.

In “The dance of the Empu”, Cahya, (Maryam Supraba), opens up telling her experiences of the difficulties she went through, with the bureaucracy as well as socially, because she married outside the administrative system. How does Cahya deal with these difficulties?

Rehearsals
Rehearsal venue changed three times as needs changed and also taking into account distance. During the first two months rehearsals were carried out at Yayasan Pitaloka. Then they moved to the Faculty of Cultural Studies at Universitas Indonesia, Depok. Finally, when preparing for the performances in Bandung and Banda Aceh, rehearsals were held in the Sasana Seni Budaya Krida, in Cempaka Putih, Jakarta. The three months of rehearsals involved discussions of the scripts (essential features and what artistic goals were to be achieved), breathing techniques, body movement, voice exercises and blocking.

Performance Notes
JAKARTA


The performances took place in the Graha Bhakti Budaya building, Taman Ismail Marzuki, 8-9 March 2008, 20.00-22.00 hrs.
The Jakarta Arts Centre provided the venue in return for 60% of ticket sales. The project’s income from ticket sales as taxes had still to be deducted from revenues, as well as taking into account the provision of free tickets to some sectors.
Ticket sales were very satisfactory. 600 tickets were sold on the first day, in addition to special invitation tickets we provided to people. We also provided 200 tickets to sectors that would not be able to afford to buy tickets. In order to do this, we worked with two community organizations, National Freedom Women and Indonesian Women’s Coalition.
The mixed audience comprises high school and university, artists, performers, professionals, housewives and activists.
We noted that the audiences stayed for the whole performance (except on the first day when three people left early.) On both nights, 90% of theatre capacity of 900 was filled. We estimate that 75% of the audiences were women. Ticket prices ranged between Rp 25.000, Rp 50.000, and Rp 75.000 to Rp 100.000.
Generally, the production process in Jakarta proceeded will and the performances were well received by the audience and in the media.

BANDA ACEH
The performance took place on 24 March 2008 in the Taman Budaya Nangroe Aceh Darussalam building. Institut Ungu and Yayasan Pitaloka worked with a local partner, Komunitas Tikar Pandan. Tikar Pandan is a cultural programmes organization active in Aceh.

The process for Banda Aceh was different than for Jakarta and Bandung. There were some suggestions that the play. “Under the street lamp”, built around a sex worker, would be too “liberal” and might create a problem in Aceh, where Islamic law is in effect. After discussion with those in Aceh, it was decided that this segment would be replaced with a play dealing with the issue of concubinage through use of traditional religious practices (kawin siri). The manuscript “The dance of the Empu”, by Tati Krisnawaty, was written for this. This was considered an important issue for women with the rise of the phenomenon in Aceh.

There was also an issue with obtaining permission to perform. In Aceh, it was necessary to obtain permits from three institutions: (1). The Ulama Assembly of Banda Aceh, (2). the provincial police, (3). the head of the Taman Budaya Banda Aceh as well as a letter of recommendation from the Banda Aceh city government.
These permits were obtained. The Ulama Assembly of Banda Aceh had one condition, namely, that men and women should sit separated on different sides of the hall. As the audience entered they mixed and men and women sat together. However, on official instruction, people were asked to segregate about ten minutes into the evening. This occurred without incident.

Another issue was whether or not a silhouette scene of a woman bathing in “A busy morning”, where the impression was given that she was naked, could be performed. (The actress actually wears tight fitting clothes.) There was some concern that this scene may be banned, due to the provisions of Islamic law, which was also mentioned in the Ulama Permit. In response to this and local sensitivities, a compromise was decided upon where the scene would be shortened and where the performer would be fully addressed. A joke was inserted with the dialogue: “this is the first time in my whole life I have bathed with clothes on”. There was great laughter in response, although some of the audience was startled by the scene.

Another issue was the condition of the venue. The Taman Budaya building in Banda Aceh had been renovated after the Tsunami. Facilities were minimal. There was no make up room, no chairs, no air conditioning. With an audience of almost 1,000 people, all sitting on the floor, people were also suffering from the heat. Equipment such as sound system, lighting, and so forth was brought in from Jakarta or hired. We also rented a generator in case there was a black out, as did occur during rehearsals the evening before performance night. This was the first theatre performance in the building since the tsunami.

All in all, things went very well in Aceh with an audience of 1,000 in a theatre with a capacity of 600. People crowded in standing at the backdoor in the upstairs balcony.

There was a very positive and happy response from the audience. This was also evident in the extensive media reportage as well as direct feed back from the audience. The audience comprised students, activists and the general public. Participants in a seminar on women’s, participation on politics organized by UNIFEM-Aceh also attended.

BANDUNG
Performances in Bandung were on 28-29 March, 2008 in the Taman Budaya Jawa Barat building. The Bandung performances also went well. About 1,300 people attended over two nights in a theatre with a 700 seat capacity. We also worked with the Faculty of Indonesian Literature ad Language at the Indonesian Education University (UPI) to promote the performance among its students. About 300 UPI students attended. Also about 70 students from the State Institute for Home Government (IPDN), an institution infamous for its cases of violent bullying, also attended. Apart from the general public, lecturers and artists were prominent in numbers among the audience.
Ticket prices were 15.000 for students and an Rp 20.000 general ticket price. Ticket sakes money was donated to MAINTEATER, the local theatre group that managed the preparations for the visiting production.
A press conference was attended by about 20 media, local and national. On Mach 20, the script authors and actors were invited to a discussion with students at UPI. There was a lively discussion focusing on themes, acting, and the issue of the position of women. There were questions about what is feminism and how does it apply in Indonesia.


Media coverage

Print media
The media has covered the whole process, starting from rehearsals, through to the public forums and then the performances themselves. There were scores of interviews with the actors and producers. The media pursued issues relating both to the actors role in the process, the basic concept of the project and the position of women and on International Women’s Day itself. Media coverage also used our press releases as well as questions at press conferences. Among the materials collected by our documentation team is reportage from: the dailies Kompas, The Jakarta Post, Koran Sindo, Media Indonesia, Sinar Harapan, Sura Karya, Republika, Koran Tempo, Tempo magazine, Gatra magazine, Dewi Magazine, and other dailies Pikiran Rakyat (Bandung) and Serambi (Aceh). We are sure there are other reports we have not seen.

Electronic Media
Several television channels, including Metro TV for their show Show Biz News on location filmed at our locations at TIM, interviewing all the actors, director and producers. The programme covered the theme of the plays, interviewed the organizers on their views on these issues, and also on technical issues of the performance. Their programme went for 30 minutes and was broadcast on TV twice. 23 March at 3 pm and on 24 March, at1 am. TVRI interviewed in the studio Faiza Mardzoeki and Rieke Diah Pitaloka on the live talk show “Tanya Hughes” around the theme International Women’s Day. Other good coverage was broadcast on Go Spot RCTI, Was Was SCTV, Kiss Indosiar and Good Morning Trans TV.

In Banda Aceh on 23 March at 10.30pm, local Aceh TV interviewed Faiza Mardzoeki and Fozan Santa from Tikar Pandan for a “live talk show” with the theme “What’s happening with women” for one hour, and which received a good response from viewers

Media reviews
Kompas daily newspaper and Tempo and Gatra weekly magazines published major reviews of the performance. They commented upon aspects such as the script, acting, directing as well as the debate over “campaigning versus art”. Most critics are still seeking, we noted, to impose a gap or distance between art and campaigning. At the same time, there were those critics who were conscious of the appropriateness of using art to take up campaign issues, such as those relating to women’s liberation issues. (see clippings in attachments).

Blogger Responses
Our research has shown also that many members of the audience maintain blogs and used these blogs to comment on the performance: both criticism and praise. Overall, we noted, there was considerable enthusiasm for theatre that takes up the problems faced by women. They also posted photos that they were able to take at the performance.

II. Public Discussion: “Quo Vadis Indonesia’s Women’s Movement?”

Ten days before the performance in Jakarta, on February 29, in the Galera Cipta III room at Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Institut Ungu and Yayasan Pitaloka organized a public forum with the theme “Quo Vadis Indonesia’s Women’s Movement?”. This discussion helped start the 2008 events discussing IWD and the reflections upon the state of the women’s movement ten years into the Reformasi period.

IWD marks an important development in the struggle by women for progress in their situation. On March 8, 100 years ago in New York, thousands of women factory workers came out onto the streets to demand decent wages, shorter working hours and the right to vote. Two years later in 1910 at a meeting if the International Socialist Gathering in Copenhagen, March 8 was declared International Women’s Day. What about in Indonesia?

Tati Krisnawaty, one of the speakers at this forum, explained that Indonesian Minister for Women’s Affairs explicitly refused to commemorate this day because of its connection with the international socialist movement. Tati went on to add that building a women’s movement in Indonesia during the 1990s meant awakening a political awareness about the position of women and then starting a systematic resistance, all the time under the shadow of state violence and facing apathy from the comfortable sections of society.

Another speaker, Mariana Amirudin, director of the Women’s’ Journal Foundation, spoke about women and culture. She said that women were in confrontation with culture, because of the repressive nature of the culture that existed. She stated that this culture stood in confrontation with the ideas of the global women’s movement: ideas of equality, solidarity and justuice between men and women.
The forum was chaired by Tommy F. Awuy and was attended by more than 100 people.

III. Poster and Photograph Exhibition
A Poster and Photograph Exhibition depicting aspects of the Indonesian Women’s Movement was organized in the foyer of the Graha Bhakti Budaya building at TIM over March 8-9 March 2008, ending after the final performance. The 2,000 or so people attending the performances were the main targets of the exhibition.
Themes and issues depicted in the exhibition included those relating to HIV-AIDS, women’s political rights, migrant workers, violence against women, trafficking in women and children, women in Islam, education for women, the protests against the Pornography and Porno Action Bill, sexual harassment, domestic violence, the Jugun Ianfu Women’s Tribunal in Japan, and exhibits relating the performance of the play “Nyai Ontosoroh”. The materials were loaned by various organizations.
Eleven organizations based in Jakarta were invited to exhibit their posters or photographs, including: Komnas Perempuan, Kalyanamitra, JAJI (Jaringan Advokasi Jugun Ianfu), Koalisi Perempuan Indonesia, Solidaritas Perempuan, LBH APIK, Jurnal Perempuan, Kapal Perempuan, Migrant Care, Serikat Buruh, Migrant Indonesia and Institut Ungu.

Apart form those attending the evening performances, many others; including parents visiting TIM with their children, visiting TIM during the day were able to enjoy this exhibition.



PRESS RELEASE

MONOLOGUE THEATRE PERFORMANCE
“Women Seize the Night”


An INSTITUT UNGU and YAYASAN PITALOKA Production

Commemorating International Women’s Day
Jakarta – Aceh - Bandung

To commemorate International Women’s Day – March 8 - 2008, Institut Ungu and Yayasan Pitaloka are presenting a monologue theatre performance entitled ”Women Seize the Night” written by Rieke Diah Pitaloka and Faiza Mardzoeki, who are also the producers. The two writers have poured their restlessness and discontent about the position of women in Indonesia into these monologues scripts providing three different perspectives: that of a member of parliament, a sex worker and a housewife. They discuss love, home, sex, politics and power.

The monologues will be performed by three actors experienced on stage and in film: Rieke Diah Pitaloka, Niniek L. Karim and Ria Irawan. They have been rehearsing now for a full two months to present their monologues which are picked with criticisms, coloured by humour and also moments that will move you.
They will be asking us all to reflect upon what is happening to Indonesian women and the real political situation of the country.

“Women Seize the Night” will be performed in three locations, Jakarta, Bandung and Banda Aceh. The Jakarta performances have been confirmed for 8-9 Maret 2008 in the Graha Bhakti Budaya-Taman Ismail Marzuki. Aceh, 24 March and Bandung 28-29 March 2008.

The perfoemances are being directed by Zuki a.k.a. Kill The DJ, a young director from Jogjakarta who has just finished as dramarturg for the Sarimin Monologue by Butet Kertarejasa. Zuki is also a hip hop singer who likes to “hip hop” beautiful poems. The performance will use a minimalist performance, integrating video presentations, which too will speak with vividness, into the stage performace. The videography is being designed by Chandra Hutagaol, music and vocal design by Yoseph Herman Susilo and lighting by Aziz Dying.


“Women Seize the Night” is fully supported by the Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, the Embassy of Finland and HIVOS. Corporate sponsors include The Body Shop, Jarum Pro Art, Red Pepper and P.T. Danone. Galery Cemara, Praxis and Voice of Human Rights are aoso supporting this activity. Media partners are Femina, Radio Utan Kayu (KBR 68H) and The Jakarta Post.

We thank all those organisations above and the many others who have helped with their hard work, enthusiasm, ideas and financial and other material support.

Let us all commemorate International Women’s Day creatively, critically and with beauty.

So don’t forget to come and watch “Women Seize the Night” !

Jakarta, 18 February 2008

Irina Dayasih
Publicity Manager
Telp. and Fax: 021-8304531; HP: 08128362711
E-mail: monolog3perempuan@gmail.com;

Vivi Widyawati
Production Manager
HP: 08158946404

Profile Pengurus Institut Ungu

Faiza Mardzoeki
Ketua Umum

Faiza Mardzoeki lahir tahun 1972, aktif di dunia gerakan perempuan dan dunia seni pertunjukan. Menjadi inisiator, produser dan penulis drama teater. Karya teater yang diproduseri dan dipentaskan dengan sukses adalah Perempuan di Titik Nol (2002), Nyai Ontosoroh, (sekaligus menjadi penulis naskahnya, tahun 2006-7) dan Perempuan Menuntut Malam (Monolog Tiga Perempuan, produser dan penulis naskah bersama Rieke Diah Pitaloka).

Ia juga pernah menjadi koordinator juri kompetisi penulisan naskah feminis oleh Justice For The Poor, World Bank Project (2007), Menjadi nara sumber dan jury pada pertemuan Panggung Perempuan Se Sumatra (2009) dan memberi workshop dan presentasi karya Nyai Ontosoroh pada International Women Playwright Confrence (Jakarta, 2006).

Tahun 2009 sedang menyiapkan karya They Call Me Nyai Ontosoroh/Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh versi lain dari Nyai Ontosoroh, adaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, sebagai penulis naskah dan produser untuk dipentaskan di Troppen Teater Amsterdam dan Tong Tong Festival Den Haag.


Selain itu ia pernah menjabat Koordinator Program Divisi Pendidikan dan Pengorganisasian Solidaritas Perempuan tahun 1997 s/d 2002. Ia juga menjadi anggota dewan penasehat Yayasan Komunikatif, sebuah yayasan yang bekerja untuk mengembangkan film documenter melalui produksi dan pelatihan di Indonesia. Pada tahun 2002, ia terlibat mendirikan Institut Ungu dan menjabat sebagai Koordinator Program. Mulai tahun 2009 ia menjabat sebagai ketua umum Institut Ungu.


Chika Noya
Koordinator Program Perempuan dan Media

Siska Dewi Noya atau yang biasa disebut Chika Noya sejak tahun 2001 aktif didalam gerakan perempuan, menjadi Asisten Koordinator Divisi Pengembangan Sistem Pemulihan Bagi Perempuan Korban Kekerasan di Komnas Perempuan dan menjabat koordinator divisi sampai dengan tahun 2007. Saat ini bekerja sebagai Program Officer Kartini Asia Network, suatu jaringan kajian feminis dan aktivisme perempuan se Asia. Bersama dengan tiga organisasi perempuan dari India, Sri Lanka dan Filipina ikut menggagas Youth Asian Women Leadership Forum pada Konfrensi Kedua Kartini Asia Network tahun 2008 di Bali dan aktif sebagai koordinator Q Discussion untuk Q Film Festival di Jakarta. Saat ini bersama dengan penggiat sineas perempuan Indonesia dan aktivis perempuan menyelanggarakan Festival Film Perempuan di Jakarta.


Pande K Trimayuni
Koordinator Program Humas dan Jaringan

Pande K Trimayuni is a researcher, writer and university lecturer. She is a Balinese who spent almost a half of her life out of Bali. Her hobbies are travelling and observing traditional art and crafts. Besides Balinese traditional art, She had had opportunities to learn the traditional art and crafts from many places around the world include: the native American, the Burmese, the Indian, etc. She got her Master of Sciences’ degree from the London School of Economics (LSE) United-Kingdom in Gender, Development and Globalization. She describes herself in three words: active, healthy and happy!


Rhoma Dwi Aria Yuliantri
Koordinator Program Riset dan Dokumentasi

Rhoma Dwi Aria Yuliantri, lahir di Kulon Progo, D.I.Yogyakarta, pada 1982. Saat ini sedang menempuh program pasca sarjana bidang Studi Sejarah Universitas Negeri Jakarta. Dalam hal riset bergabung dalam I:BOEKOE sebagai periset utama "Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007)", 'Seabad Pers Perempuan (1908-2008)", "Almanak Abad Partai", "Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008)". Buku yang telah ditulisnya (diterbitkan Merakesumba): "Lekra tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Rakjat 1950-1965", "Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra 1950-1965", "Laporan dari Bawah: Sehimpunan Cerpen Lekra 1950-1965". Selain melakukan riset mandiri ia juga aktif menjadi koresponden berbagai majalah dan jurnal perempuan.



IRINA DAYASIH
Bendahara


Lahir di Jakarta, tahun 1962. Setelah menyelesaikan pendidikan pada 1982, ia menjadi guru di sebuah yayasan pendidikan di Jakarta. Tak genap tiga tahun di sana, ia beralih ke organisasi non-pemerintah (NGO) dan berpindah sampai empat kali dari satu NGO ke NGO lainnya dengan masa kerja selama lebih dari 20 tahun, Pada tahun 1999 dan 2002 ia mengkoordinir penyelenggaraan pameran “Kartun untuk Demokrasi” yang diselenggarakan oleh Friedrich-Naumann-Stiftung – tempat ia bekerja – di enam kota besar di Indonesia.

Ia merupakan salah satu pendiri sekaligus Bendahara Institut Ungu – Pusat Seni Budaya Perempuan.

Saat ini ia menjadi Koordinator “Solidarite Indonesie” untuk wilayah Jawa dan sekitarnya. Solidarite Indonesie adalah sebuah organisasi yang berkedudukan di Paris.


Soe Tjen Marching
Anggota Dewan Penasehat

Soe Tjen Marching adalah seorang komponis, penulis dan peneliti feminis. Dia mendapat PhD di Universitas Monash, Australia dengan menulis disertasi tentang buku harian perempuan Indonesia. Sebagai seorang komponis, ia pernah memenangi kompetisi tingkat nasional di Indonesia pada 1998. Sebagai penulis, ia pernah memenangi beberapa lomba penulisan cerpen di Melbourne - Australia.

Rabu, 15 April 2009

Badan Organisasi dan Struktur Pengurus 2009 s/d 2012

Dewan Pengurus 2009 s/d 2012

Ketua Umum : Faiza Mardzoeki
Sekretaris : Vivi Widyawati
Bendahara : Irina Dayasih
Koordinator Program Humas dan Jaringan : Pande K. Trimayuni
Koordinator Program Perempuan dan Media : Siska Dewi Noya (Chika)
Koordinator Program Perempuan dan Seni Rupa : Citra Smara Dewi
Koordinator Program Perempuan dan Seni Pertunjukan : Faiza Mardzoeki
Koordinator Penelitian dan Pengembangan : Rhoma Dwi Aria Yuliantri



Dewan Penasehat 2009 s/d 2012

Geni T. Achnas
Dr. Soe Tjen Marching
Dr. Dyah Chitraria Lietiaty
Yeni Rosa Damayanti

Sejarah Institut Ungu

Latar Belakang Pemikiran

Ketika Seni Menjadi medium yang strategis


“Kami menyimpan harapan bahwa sejalan dengan tumbuhnya apresiasi terhadap seni dan budaya di masyarakat, maka pemahaman dan penghargaan terhadap HAM, toleransi dan pluralisme pun akan berkembang”.


Seni sudah lama berperan dalam upaya pedagogial yang menyenangkan dan populer. Upaya ini lebih ramah dan mudah diterima, menjangkau masyarakat secara luas dan efektif untuk mendorong sebuah perubahan sosial.

Pementasan Perempuan di Titik Nol bulan April 2002 yang diprakarsai oleh Solidaritas Perempuan dan para aktivis perempuan menjadi titik awal bagi kami. Teater yang diangkat dari karya Nawal El Sadaawi –penulis dan pejuang perempuan dari Mesir- ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ribuan penonton menyaksikan pementasan ini; karcis tanda masuk terjual habis sebelum hari pertunjukan dan ratusan pengunjung terpaksa ditolak karena terbatasnya tempat. Media masa pun meliput secara luas mulai dari persiapan hingga paska pertunjukan, membantu mengembangkan wacana publik mengenai posisi dan situasi perempuan.

Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi kami - sebagian aktivis dan pekerja seni yang terlibat dalam pementasan Perempuan di Titik Nol - untuk melanjutkan upaya mengkomunikasikan perspektif perempuan melalui media seni-budaya, yang lebih dapat diterima oleh masyarakat karena lebih ramah, popular dan menyenangkan.

Tak kalah pentingnya upaya ini sekaligus akan mendorong dan memberikan fasilitas berkreasi kepada para seniman perempuan agar berkiprah nyata di dunia seni. Ditambah lagi dengan harapan bahwa dengan berkembangnya apresiasi terhadap seni-budaya di masyarakat, pemahaman dan penghargaan terhadap HAM, toleransi dan pluralisme pun akan turut berkembang.

Pada bulan Oktober 2002, Faiza Mardzoeki, Yeni Rosa Damayanti, Irina Dayasih dan Nurachmi memulai membangun organisasi ini secara perlahan dengan sebuah pilot project Festival Seni Budaya Perempuan (Feminist Cultural Festival) untuk perayaan bulan kelahiran tokoh feminis Indonesia, Kartini, yang terselenggara dengan sukses pada tahun 2003.

Kemudian berturut-turut sampai dengan tahun 2008, Institut Ungu sebagai inisiator utama telah memproduksi teater dengan mengangkat tema-tema pembebasan perempuan bersama organisasi sosial dan seniman populer lain. Tetaer yang telah diproduksi yaitu Nyai Ontosoroh (2006-2007) dan Perempuan Menuntut Malam (2008). Kedua teater ini mendapat liputan media berskala nasional, baik di media-media besar ibukota maupun media daerah. dan ditonton ribuan orang.

Mulai tanggal 25 Februari tahun 2009, Institut Ungu mengajak individu-individu baru yang sepakat dengan cita-cita Institut Ungu dan bersama-sama memperjuangkan visi misi organisasi dan duduk dalam kepengurusan organisasi. Mereka adalah Siska Dewi Noya (Chika), Pande K Trimayuni, Vivi Widywati, Citra Smara Dewi, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Dr. Soe Tjen Marching, Geni Achnas dan Dr. Chitraria Liestyati.

Tentang Institut Ungu

Institut Ungu

Institut Ungu adalah organisasi nirlaba yang bekerja untuk mengkampanyekan isu pembebasan perempuan melalui medium seni budaya.

Visi

Menjadi pusat seni budaya perempuan yang mengusung nilai-nilai kesetaraan gender, keadilan, dan hak asasi manusia, yang bertujuan menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan mengkahiri penindasan terhadap perempuan melalui gerakan kebudayaan

Misi
1. Turut membangun gerakan perempuan, termasuk di dalamnya pekerja seni perempuan dan industri kreatif di seluruh Indonesia

2. Turut serta mendorong lintas generasi untuk terlibat aktiv dalam kegiatan promosi hak asasi manusia dan keadilan gender melalui gerakan kebudayaan

3. Menjalin kerjasama dengan gerakan perempuan, termasuk di dalamnya pekerja seni dan organisasi seni di Indonesia dan di dunia internasional

4. Memperjuangkan terjadinya perubahan nilai, sikap dan perilaku yang merupakan manifestasi dari ideologi patriarki ke arah tatanan masyarakat yang adil dan setara

5. Memperjuangkan dan melakukan fasilitasi para perempuan pekerja seni untuk perempuan agar berpartisipasi secara nyata dalam proses kemajuan kebudayaan di Indonesia