Kamis, 16 April 2009

TEATER NYAI ONTOSOROH (2006-2007)

SIARAN PERS

Pementasan Teater: Nyai Ontosoroh
Adaptasi dari novel Bumi Manusia karya novelis terbesar Indonesia Pramoedya Ananta Toer

12, 13, 14 Agustus 2007
Gedung Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta


Gagasan
Pertunjukan teater Nyai Ontosoroh pada awalnya diprakarsai oleh Faiza Mardzoeki sekaligus penulis naskahnya. Ia mengadaptasi novel Bumi Manusia karya Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer ke dalam naskah drama berjudul Nyai Ontosoroh. Ia sebelumnya pernah menggagas dan memproduksi teater berjudul Perempuan di Titik Nol, karya Feminist Mesir, Nawal El Saadawi, bersama aktivis perempuan dan seniman lainnya.

Munculnya gagasan “memanggungkan” buku Bumi Manusia karya Pram tersebut diawali dengan pemikiran buku tersebut penting dan menarik! Mengapa?

Novel Bumi Manusia berisi catatan perjalanan sejarah kita sebagai bangsa. Dan mengandung pelajaran-pelajaran penting sebagai perempuan, sebagai manusia. Saat membaca Bumi Manusia, kita bisa merefleksikan diri kita sendiri siapa kita, mengapa kita begini, lantas mau memilih tindakan apa? Hal ini tergambar secara jelas dalam tokoh perempuan Sanikem alias Nyai Ontosoroh, karakter yang dinarasikan oleh Minke – seorang sosok yang diinspirasikan oleh sang pemula kebangkitan pribumi sebagai awal kebangsaan, Tirto Adhisuryo.

Teater Nyai Ontosoroh adalah kisah perlawanan Sanikem, seorang perempuan yang dirampas kedaulatnnya justru oleh ayah kandungnya dan dihinakan oleh masyarakatnya. Ia menghadapi pergulatan hidup yang sesungguhya. Pengalaman dan lingkungannya telah menciptakan babak baru demi babak baru dalam hidupnya dan kemudian membentuk karakternya. Dalam upaya merebut kembali kedaulatannya Sanikem memilih jalan melawan. Kisah Nyai Ontosoroh dengan latar waktu Kolonial Belanda tetap aktual hinggá kini.

Karya bersama aktivis dan seniman
Pentas teater Nyai Ontosoroh di Jakarta, tanggal 12, 13 dan 14 Agustus 2007 di Gedung Graha Bhakti Budaya TIM, disutradarai oleh Wawan Sofwan, seorang sutradara yang telah berpengalaman panjang, sejak dari kelompok StudiKlub Bandung. Ia menggarap banyak pementasan drama karya klasik barat, terutama karya Betorl Brecht, di antaranya Kebangkitan Arturo Ui yang dapat dicegah, dan menyutradarai musical teater, HONK, serta pentas monolog di beberapa negara di kawasan Eropa dan Australia. Kali ini ia dibantu oleh Rin Threesa, seorang sutradara perempuan muda dengan semangat kerja mengagumkan.

Happy Salma, seorang artis dan penulis, yang juga dikenal sebagai penggemar berat karya Pram berperan sebagai Nyai Ontosoroh. Ia telah melakukan kerja keras dalam latihan-latihan yang ketat bersama aktor-aktor lain. Mereka termasuk Nuansa Ayu (Sanikem) Williem Bivers (Tuan Mellema), Temmy Mellianto (Minke), Madina Wowor (Annelies), Hendra Yan (Ir. Mauritsz), Restu Sinaga (Robert Mellema), Teuku R. Wikana (Robert Suhrof), Fellencia (Maiko), Harrist (Babah Ah Tjong), Joind Bayuwinanda (Bupati Brojonegoro), Bowo GP (Sastro Tomo), Pipien Putri (istri Sastro Tomo), Budi Ketjil (Darsam), Ayu Diah Pasha (Bunda Minke), Ayes Kassar (Jean Marrais) Sita RSD (Magda Peters), Rebecca Hensckhe, Rusman dan Rudi Wowor.

Teater Nyai Ontosoroh merupakan produksi bersama Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika dan Perguruan Rakyat Merdeka, bersifat non profit. Didukung oleh berbagai organisasi LSM, atara lain Elsam, Jari, Koalisi Perempuan Indonesia, Kalyanamitra, LBH APIK, Perkumpulan Praxis, Kontras, Komunitas Ciliwung, Perkumpulan Seni Indonesia, Pramoedya Institut, Solidaritas Perempuan, Voice of Human Rights dan Yappika

Pada tim managemen produksi, kerja kolaborasi ini diproduseri oleh Faiza Mardzoeki dan Andi K Yuwono, serta didukung oleh berbagai individu yang menggawangi terwujudnya pementasan, antara lain Irina Dayasih, Dewi Djaja, Yulia Evina Bhara, Vivi Widyawati, Tedjo Priyono, Katarina Puji Astuti, Efriza, Siti Ma’rifah, Ratnaningsih, Eko Bambang Subiantoro, Lilik Munafidah, Warsito, Sigit Pranowo, Agung Wirayudha, Sidarta, Ripana Puntarasa, Putri Miranda dan Myra Diarsi sebagai penanggung jawab.

Pementasan Teater Nyai Ontosoroh menjadi sebuah kerja budaya kolektif dari berbagai spektrum. Para aktivis, feminist, seniman teater, pemain film, pematung, perancang busana, musisi dan mereka yang baru memasuki dunia panggung. Kami beragam dan kami kerja bersama.

Selain kita bisa menikmati keasyikan cerita, permainan para aktor yang telah latihan berbulan-bulan, kita juga akan menyaksikan tata panggung yang dikerjakan oleh pematung perempuan terkemuka, Dolorosa Sinaga, dengan tim kerjanya Gallis AS, seorang seniman topeng yang juga telah banyak terlibat dalam proyek pementasan teater. Kita akan dibawa ke nuansa masa lampau dengan rancangan busana sekitar 40 pakaian masa kolonial yang dikerjakan oleh desainer Merdi Sihombing. Tata musik oleh musisi yang telah banyak menciptakan komposisi musik untuk film dan teater, Fahmi Alatas dengan tata suara oleh Mogan Pasaribu. Tata lampu dikerjakan oleh Aziz Dying dibantu Sari Suci dan laku gerak oleh koreografer perempuan, Pipien Putri. Ada lagi, Jerri Pattimana bertindak sebagai manager panggung.

Harapan kami, pementasan teater Nyai Ontosoroh bisa memberi sumbangan pemikiran dan renungan bagi proses berbudaya dan berbangsa di Indonesia serta bisa menjadi tontonan panggung yang apik.

Selamat menyaksikan !
Jakarta, 19 Juli 2007







Voices Of Human Rights Note on Nyai Ontosoroh (Ind)

Nyai Ontosoroh
Perjuangan Menuju Keberanian Melawan
16 Agustus 2007 - 17:48 WIB---VOICES OF HUMAN RIGHTS
Kurniawan Tri Yunanto



"Yang penting berani. Dan, jika kamu yakin ingin melakukan, lakukan saja."

Pesan Pramoedya Ananta Toer itu menjadi pegangan Faiza Mardzoeki untuk mengusung beban berat novel Bumi Manusia ke pentas teater. Kalimat sederhana itu membantu memahami dan mendalami karakter Nyai Ontosoroh untuk dipentaskan.

Dalam Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh yang nama aslinya Sanikem adalah sosok perempuan pribumi yang dengan gigih dan perih melawan tatanan sosial politik di era kolonial Belanda. Ketika baru beranjak remaja, kedaulatannya sebagai manusia dirampas oleh bapaknya. Dia dijual kepada Herman Mellema, Belanda totok yang punya kuasa harta.

Dalam penyerahan diri itu Sanikem belajar keras menyerap "ilmu Eropa" untuk membuka jalan terang masa depan. Perjuangan diam-diam itu membentuk pribadi yang kuat untuk zamannya. Terinspirasi kekuatan itulah Faiza berani mementaskan semangat perlawanan Nyai Ontosoroh ke panggung teater.

Apalagi tema perlawanan perempuan dalam novel awal dari tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca itu masih relevan dengan kondisi saat ini. Tetap saja terjadi kekerasan dalam rumah tangga, penindasan perempuan oleh struktur sosial, perdagangan perempuan, dan penindasan tenaga kerja Indonesia yang sebagian besar adalah perempuan. "Tujuan utama teater ini sebenarnya kampanye soal perempuan. Soal ketertindasan perempuan. Dan Ontosoroh telah berhasil melawan itu," kata Andi K Yuwono, produser pentas Nyai Ontosoroh.

Rencana pementasan teater ini berawal pada tahun 2002, setelah Faiza mementaskan Perempuan di Titik Nol, adaptasi novel feminis Nawal El Sadawi. Sampai tahun 2004, niat ini hanya sebatas diskusi dengan beberapa kalangan. Selama dua tahun pergulatan itu tak melahirkan apa-apa. Saat di Australia, Faiza gelisah dan berpikir ulang untuk memanggungkan Nyai Ontosoroh. Dia pulang ke tanah air lalu kembali "bergerilya" dan berdiskusi dengan beberapa LSM, kelompok teater, dan seniman. "Saya bergerilya dan banyak sekali mendapat masukan. Hampir semua kalangan cukup bersemangat dan mendukung pementasan ini. Pertengahan 2005 saya mulai mencari tim," ujar Faiza.

Dengan Andi, Faiza sadar proyek ini tidak bisa dilakukan sendiri, tapi harus melalui kerja kolektif. Akhirnya terjalin kerja sama dengan Perguruan Rakyat Merdeka, Perempuan Mahardika, serta Institute Ungu, dan menjadi motor penggerak pertama.

Persiapan pentas Nyai Ontosoroh menguras tenaga dan pengorbanan. Beberapa kendala muncul. Misalnya, 50 hari menjelang pementasan pada April lalu, sutradara Ken Zuraida mengundurkan diri. "Kami menerima saja, tapi dengan catatan proyek ini harus jalan. Karena prosesnya sudah sangat lama. Tentu saja pengunduran ini membuat kami down. Belum lagi biaya yang terpakai sudah banyak. Tapi sama sekali tidak menyurutkan niatan untuk memanggungkan Bumi Manusia," kata Faiza.

Kenapa Ken Zuraida mengundurkan diri dari proses yang sudah berjalan? Menurut Andi, selama proses produksi memang sering terganggu komunikasi di antara sesama anggota tim.

Akhirnya tim menemukan Wawan Sofwan sebagai sutradara pengganti. Bersama sutradara asal Bandung ini, tim kerja mulai dari nol lagi. Riset mulai dilakukan. Misalnya pakaian untuk pentas. "Karena ini kerja agak mempertanggungjawabkan, mesti riset segala. Peristiwanya kan terjadi pada masa lalu. Sebagai desainer, saya harus tahu jenis kain yang kira-kira dipakai pada peristiwa itu," kata Merdi Sihombing, fashion designer.

Tidak hanya keluar masuk pasar, Merdi juga berburu jenis kain yang mendekati di Pasar Klewer, Solo. Karena teater merupakan pengalaman pertamanya, Mergi juga mencari referensi melalui buku-buku dan beberapa film pada tahun 1903 yang mendekati peristiwa yang digambarkan Pram.

Dolorosa Sinaga juga mengaku bekerja keras untuk tata panggung. Meski penggambaran situasi dalam novelnya sangat realis, dia memilih konsep minimalis untuk tata panggung pentas teater ini. "Formatnya sangat minimalis, tidak pernah membayangkan setting ini akan menjadi sangat realis. Jadi, barang yang diperlukan di panggung, meja, kursi, tempat tidur, pengadaannya tidak perlu sama. Cukup mendekati saja," ujarnya.

Sutradara Wawan Sofwan juga memerlukan riset mendalam. Dia tidak begitu saja menerima tawaran untuk menjadi sutradara. Dia mempelajari naskah Faiza dan membaca ulang Bumi Manusia. Akhirnya dia menerima tanggung jawab itu. "Pengorbanan yang tampak selama proses latihan adalah pengorbanan ego. Saya selalu bilang kepada seluruh pemain, ini kerja yang mengandalkan hati. Karena kita tidak dibayar untuk memanggungkan Nyai Ontosoroh. Jadi, harus dibarengi ketulusan. Itu yang membuat saya agak gemetar. Tapi akhirnya bisa terbangun," katanya.

Wawan sadar, empat bulan waktu yang pendek. Apalagi dia menerima tawaran dalam kondisi pemain yang tidak sepenuhnya siap, baik dari sisi kebutuhan pemain maupun sisi skill pemain. Casting kembali dilakukan untuk mendapatkan karakter pemain yang pas. Secara umum dari 20 pemain yang terlibat tidak mempunyai dasar teater.

Karena naskah cukup fragmentatif, Wawan menemukan solusi untuk mengolah para pemain. "Ini kan terdiri dari 31 adegan. Ada 23 adegan tidak perlu latihan dengan melibatkan banyak pemain. Kalau adegan yang membutuhkan banyak pemain, biasanya dilakukan pada malam hari. Kalau Happy itu bisa dari pagi sampai malam."

Tantangan terbesar dari 31 adegan ini adalah adegan flash back perjalanan hidup Sanikem kecil menjadi Nyai Ontosoroh. Sebab, menurut Wawan, esensi keseluruhan adegan adalah adegan flash back ketika awal perlawanan Ontosoroh. "Di situ harus ada titik temu, supaya antar-adegan bisa nyambung. Itu harus dilatih agar menemukan jembatannya."

Yang tidak kalah penting pembentukan karakter Nyai Ontosoroh. Dalam novel, sosok karakter Ontosoroh sangat kuat sekaligus dingin dan sinis. Namun, dalam pentas ada beberapa adegan yang justru cenderung menunjukkan kelembutannya. Wawan mencoba melihat dari sisi ini. Karena sifat keras Nyai hanya muncul dalam persoalan tertentu.

Dalam proyek besar ini, menurut produser telah menghabiskan tak kurang dari Rp 500juta, publik ternyata lebih terfokus pada akting Happy Salma yang memerankan Nyai Ontosoroh. Meski baru pertama kali terjun di dunia teater, akting Happy cukup memberikan harapan. Pilihannya memerankan Nyai Ontosoroh rupanya tidak sia-sia.

Awalnya, setelah Ken mengundurkan diri dan terjadi kevacuman, Happy berencana ke Eropa. Namun dia memutuskan menunda setelah membaca naskah pentas dan Bumi Manusia kembali. Selama 2,5 bulan, dia bekerja ekstra untuk penghayatan dan menguasai dialog secara maksimal. Dia berlatih dari pagi hingga malam."Ada di dialognya. Tiga jam dengan dialog panjang dan setiap dialog penting. Bahkan, sampai titik komanya, karena itu berpengaruh pada penyampaiannya. Jadi, memang butuh konstrasi lebih. Yang pasti 2,5 bulan aku total. Kerjaanku di TV aku kurangi. Setiap hari aku latihan," tuturnya.

Pertunjukan tiga malam 12-14 Agustus itu dirasa sukses. Max Lane, yang menerjemahkan karya Pram ke bahasa Inggris, mengaku puas atas pentas Nyai Ontosoroh. Menurut dia, hampir semua pesan Bumi Manusia tersampaikan di panggung. Kita tidak akan sepenuhnya kalah kalau melawan, salah satu pesan yang sangat kuat dalam novelnya, sangat jelas dinyatakan di atas panggung bahwa melawan itu untuk membangun karakter.

Max mencontohkan, perempuan masih diperjualbelikan, kepentingan orang Barat lebih dipentingkan daripada hak penduduk Indonesia, praktik feodal masih berlaku, dan orang kecil tidak bisa berperkara di pengadilan. Namun, dia menyayangkan pesan yang tidak bisa dibaca secara langsung dalam buku Pram, tidak berhasil diungkapkan dalam teater. Pesan itu adalah Indonesia merupakan pembentukan manusia baru melalui perlawanan. Kalau pembangunan watak melalui perlawanan itu ditinggalkan, Indonesia akan bubar. Karena situasi Indonesia menuntut sebuah perlawanan

Menurut Max, Nyai Ontosoroh bukan tontonan orang malas, karena penonton dituntut konsentrasi, seperti halnya dengan novelnya. "Kalau orang masuk dan berpikir akan terhibur, itu salah. Karena orang nonton adegan ini, keluar pasti capek karena dituntut konsentrasi. Setiap kalimat mengandung makna. Karena jiwa dari sandiwara dan novelnya itu memang menuntut keberanian. Jangan mau menyerah dan harus melawan, baik melawan kekuasaan maupun situasi."

Jadi, bila ada penonton serius yang belum menemukan keindahan dan pencapaian artistik sebuah teater dari pentas Nyai Ontosoroh, maaf saja. Karena muatan pesan lebih tampak mendesak-desak ke permukaan. Bahkan, gong penutup "Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya." jadi kurang mencekam-dalam, karena "dihancurkan" terlebih dahulu oleh baliho besar kalimat itu di samping panggung. (E4)
Foto-foto: Kurniawan TY/VHRmedia.com
©2007 VHRmedia.com



SWARA-KOMPAS
Senin, 13 Agustus 2007

Perempuan dalam Teater


Ilham Khoiri

Strategi gerakan perempuan di Indonesia semakin meluaskan sayap. Jika sebelumnya lebih berkutat pada advokasi lewat lembaga swadaya masyarakat, kini sebagian aktivis semakin memperlebar jangkauan "kampanye" lewat seni teater. Tapi, sejauh mana efektivitasnya?

Pertunjukan teater dengan lakon Nyai Ontosoroh mencoba merambah wilayah ini. Pentas yang dijadwalkan 12-14 Agustus di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, itu diproduksi Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, dan Perguruan Rakyat Merdeka.

Kenapa pertunjukan itu mencerminkan perluasan wilayah gerakan perempuan? Pertama-tama, itu menyangkut pilihan tema. Naskah Nyai Ontosoroh, yang ditulis Faiza Mardzoeki, adalah adaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (terbit tahun 1980). Salah satu tetralogi Pulau Buru itu menggambarkan perjuangan tokoh perempuan, Nyai Ontosoroh, yang melawan ketidakadilan.

Ontosoroh adalah Sanikem, gadis cantik asal Tulangan, Sidoarjo. Saat berusia 14 tahun, dia dijual oleh ayahnya sendiri kepada pengusaha Belanda di Surabaya, Herman Mellema. Sanikem pun dijadikan gundik.

Penderitaan justru membuat Sanikem bangkit, lantas mempelajari tata niaga, bahasa Belanda, dan hukum. Perempuan desa itu pun berubah menjadi seorang nyai modern yang piawai menjalankan perusahaan dan dikenal sebagai Nyai Ontosoroh.

Minke, seorang siswa HBS, tertarik dengan kepintaran Ontosoroh, kemudian menjalin asmara dengan putrinya yang jelita tapi rapuh, Annelies. Sayang, setelah Herman Mellema meninggal, pengadilan kolonial memutuskan, gadis itu harus dipulangkan ke Belanda. Meski kalah dan didiskriminasi, Ontosoroh gigih melawan.

Aktual

Walaupun ditulis dengan latar belakang zaman kolonial di Surabaya tahun 1898, semangat Ontosoroh tetap relevan untuk zaman sekarang. Karya ini memberikan inspirasi, bagaimana perempuan tidak menyerah pada nasib atau situasi yang diskriminatif, melainkan berjuang mengembangkan sumber daya dan aspirasinya sendiri.

"Sampai sekarang, kaum perempuan di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan, seperti trafficking atau penjualan anak perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, dan diskriminasi. Kisah itu masih aktual karena menularkan spirit untuk melawan ketidakadilan," kata Faiza Mardzoeki yang juga menjadi koordinator program Institut Ungu itu.

Pementasan Ontosoroh dikerjakan dengan kolaborasi antara sejumlah aktivis perempuan, seniman teater, pematung, artis, perancang busana, dan sejumlah orang yang perhatian pada gerakan perempuan. Artis Happy Salma, misalnya, memerankan tokoh Ontosoroh. Temmy Mellianto memainkan Minke, Madina Wowor sebagai Annelies, dan aktor teater Budi Ketjil menjadi Darsam—pendekar penjaga keluarga Ontosoroh.

Penyutradaraan ditangani Wawan Sofwan, tata panggung oleh pematung perempuan, Dolorosa Sinaga. Desainer Merdi Sihombing mengerjakan tata busana, sedangkan musisi Fahmi Alatas menata musik. Dengan komposisi yang melibatkan banyak orang dengan kesibukan bermacam-macam, kolaborasi itu tentu makan proses panjang dengan program latihan yang sulit.

"Mungkin karena cintalah, akhirnya kami semua mau bersusah payah mewujudkan pentas ini. Saya sendiri sampai menolak beberapa tawaran job demi berkonsentrasi latihan," kata Happy Salma seusai latihan di Galeri Nasional, Jakarta, Rabu (8/8) malam.

Lanjutan

Gagasan untuk mementaskan novel perempuan dalam bentuk teater pernah dilakukan Faiza dengan mengadaptasi novel Perempuan di Titik Nol karya feminis Mesir, Nawal el Saadawi, dalam pentas teater di TIM, Jakarta, tahun 2002. Saat itu, aktris Nurul Arifin dan Ria Irawan ikut naik panggung.

Kerja serupa pernah dilakoni sejumlah aktivis perempuan di Tanah Air. Tahun 1999, misalnya, Makassar Arts Forum (MAF) mementaskan teater Ketika Kita Kaku di Gedung Societeit de Harmonie, Ujungpandang. Karya Arman Dewarti ini mengungkap dominasi lelaki dan kekerasan yang dialami kaum hawa.

Tahun 2000, Satu Merah Panggung pimpinan Ratna Sarumpaet menggelar lakon Alia, Luka Serambi Mekah di TIM, Jakarta. Kisah ini menceritakan perlawanan perempuan terhadap orang-orang bersenjata di Aceh. Tahun 2001, lakon Bom Waktu Perempuan oleh Teater Kita Makassar dan LBH-Pemberdayaan Perempuan Indonesia juga menyoal realitas kekerasan terhadap perempuan.

Tahun 2002, Koalisi Perempuan Indonesia menggelar pentas monolog berjudul Vagina Monolog dengan naskah asli karangan Eve Ensler. Tahun itu juga, Teater Perempuan Independen pimpinan Lena Simanjuntak menggerakkan para perempuan pedesaan untuk memainkan lakon Suara dan Suara di Taman Budaya, Medan. Sebelumnya, Luna menggiatkan pentas teater yang melibatkan pekerja seks di Surabaya melalui Program Hotline Surabaya AntiAids.

>newarea 1< Fenomena yang semakin menguat ini setidaknya memperlihatkan, sebagian kalangan masih yakin, panggung teater tetap efektif untuk menyuarakan gagasan feminisme dan kesadaran jender di tengah masyarakat. Kisah-kisah perlawanan perempuan yang inspiratif akan semakin mudah ditangkap penonton melalui adegan, dialog, dan visual secara langsung. Gagasan berat pun bisa diolah dan disajikan dengan lebih jelas.

Soal penggarapan sisi seni teaternya, itu memang jadi tantangan tersendiri. Bagaimanapun, kerja seni teater tetap menghajatkan kemampuan menggarap gagasan, naskah, dramaturgi, estetika di atas panggung, dan teknis matang yang membuat pergelaran menjadi pentas seni yang menarik. Jika para aktivis perempuan itu tak mengelolanya dengan maksimal, bisa jadi seni teater malah terpasung oleh slogan kampanye yang gagah.

Untuk pentas Ontosoroh, setidaknya masyarakat sudah menunjukkan minat yang besar. Beberapa hari menjelang hari-H, sekitar 2.400 tiket pertunjukan Nyai Ontosoroh seharga Rp 30.000-Rp 100.000 per satu tiket hampir habis terjual. Apakah semangat gerakan perempuan dan kolaborasi mereka berhasil di atas panggung? Ya, kita tonton saja.










KOMPAS. Jumat, 27 Oktober 2006

Gugatan terhadap Subordinasi Perempuan



Jakarta, Kompas - Teater atau genre sastra lakon masih diyakini sebagai alat yang artikulatif untuk menyampaikan pesan, gagasan, bahkan gugatan. Garapan teater bertajuk Nyai Ontosoroh yang masih dalam persiapan termasuk yang menyampaikan gugatan terhadap subordinasi perempuan.

Demikian penjelasan Faiza Mardzoeki, penulis lakon Nyai Ontosoroh di Jakarta, Kamis (26/10). Menurut rencana naskah itu akan dipentaskan di 13 kota antara Desember 2006 dan Maret 2007 oleh grup teater yang berbeda-beda. Di Jakarta, pementasan Nyai Ontosoroh akan dilaksanakan April 2007, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Lakon Nyai Ontosoroh, kata Faiza, merupakan naskah yang disadur dari roman Bumi Manusia karya almarhum Pramoedya Ananta Toer. Buku tersebut merupakan bagian dari tetralogi Pulau Buru.
Tokoh Nyai Ontosoroh dalam buku karya Pram tersebut digambarkan sebagai nyai dari seorang Belanda.

Di tengah stigma seorang nyai sebagai orang yang tidak punya norma kesusilaan lantaran menjadi istri simpanan, Nyai Ontosoroh berhasil mengelola peternakan dan perkebunan.
Nyai Ontosoroh pula yang kemudian berpengaruh besar kepada Minke. Minke kemudian menjadi penulis yang karya-karyanya berani dan menggugat penindasan oleh penjajah.
Faiza Mardzoeki yang merangkap sebagai produser pertunjukan mengungkapkan, Nyai Ontosoroh mempunyai peranan dalam proses pembangunan bangsa, termasuk dalam kelompok perempuan maju.

”Mereka tertindas, tetapi punya potensi untuk menyerap pengetahuan dari tuan-tuannya yang umumnya berperadaban Eropa,” ujarnya.
Faiza melihat apa yang dialami Nyai Ontosoroh masih relevan dengan kondisi saat ini. Walaupun, sudah banyak kemajuan, peranan dan pengakuan terhadap perempuan masih menjadi persoalan pelik.

Faiza yakin teater merupakan bentuk ekspresi seni yang baik untuk menyampaikan gagasan tertentu.
Dia berharap gugatan peran perempuan dalam pementasan tersebut nantinya dapat disampaikan. Apalagi, di ranah seni teater, masih sedikit yang mengangkat tema-tema perempuan.
”Teater mampu berinteraksi langsung dengan audiensnya,” kata Faiza yang pernah mementaskan Perempuan Di Titik Nol karya penulis perempuan Nawal El-Sadawi, dan terbilang sukses.

Sementara itu sutradara Ken Zuraida dari Bengkel Teater menyatakan tertarik menyutradai pementasan naskah itu tidak semata karena menyadur karya penulis besar Pramoedya Ananta Toer. Naskah itu menggugat peran perempuan yang subordinatif dan masih relevan sampai kini. ”Saya merasa tertantang untuk menerjemahkan tokoh Nyai Ontosoroh di atas panggung,” ujar dia.

Para pemain telah terpilih dan saat ini telah memasuki masa latihan. Tokoh Nyai Ontosoroh akan diperankan oleh Hapy Salma, tokoh Minke diperankan David Chalik, Magda Peters diperankan Ine Febriyanti, dan tokoh Anellis dimainkan Maryam Supraba.

Adapun tokoh Acong akan diperankan Edi Haryono, tokoh Darsam akan diperankan Zainal Abidin Domba, dan Jean Marais diperankan Agus Herman Susanto. (INE)


The Jakarta Post, 12 August 2007

'Nyai Ontosoroh' to be staged in Jakarta
Kurniawan Hari, The Jakarta Post, Jakarta


After being performed in eight cities in Java, Kalimantan and Sumatra, a play titled Nyai Ontosoroh will be staged for Jakartans at the Taman Ismail Marzuki arts center in Central Jakarta on Aug. 12-14.

Written by scriptwriter/producer Faiza Mardzoeki, Nyai Ontosoroh is an adaptation of Bumi Manusia (This Earth of Mankind), a novel by renowned author Pramoedya Ananta Toer.
"Nyai Ontosoroh is a figure in the novel who has a strong personality. She provides inspiration. Overall, the novel has some dramatic elements that drove me to bring them to the stage," Faiza told a media conference Friday.

Bumi Manusia, Faiza said, is a very interesting novel as it provides historical information about Indonesia. It also presents the struggle of a woman against subordination in colonial times, she explained.
Considered by Soeharto as promoting leftist ideology, many of Pramoedya's works were banned. Although the restrictions still exist today, people can easily find Pramoedya's works in bookstores.

An fan of Pramoedya's works, Faiza spent almost two years on the script. After finishing it, she then offered it to theater troupes in several cities.
To her surprise, most of the theater troupes she met gave positive responses and staged the play between December 2006 and March 2007.

"The show in Jakarta will be the climax," Faiza said.
For this project, Faiza has worked together with director Wawan Sofwan and co-producer Andi K. Yuwono. The main character, Nyai Ontosoroh, will be played by artist Happy Salma, who is also an admirer of Pramoedya.
Wawan said he immediately accepted the job when he was asked to direct Nyai Ontosoroh in March.
"I accepted the offer as I liked the script. We had four months for rehearsal. I appreciate the good cooperation among team members. We will do our best for the audience," he said.
Meanwhile, Andi hailed the hard work of all 125 crew members, and expressed the hope that the audience would enjoy the performance.

According to Faiza, the Jakarta audience has been enthusiastic about the play. About 80 percent of the tickets for the three-day performance have been sold out.
Nyai Ontosoroh is a joint production by several non-governmental organizations, and has been sponsored by a number of private firms and foreign embassies.
printer friendly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar