Kamis, 16 April 2009

FESTIVAL APRIL 2003

Festival April

“Festival April adalah sebuah festival perempuan yang diselenggarakan untuk merayakan bulan kelahiran Kartini. Dalam Festival April, perayaan hari Kartini mengejawantah dalam bentuk yang berbeda: inovatif dan mendobrak. Disini suara kaum perempuan akan diserukan kepada masyarakat melalui medium yang sangat menarik, yaitu seni budaya.”

Festival April adalah sebuah perayaan akbar bagi kreatiftas artistik perempuan; sebuah ajang untuk mendorong dan mempromosikan karya-karya para seniman dan penulis perempuan.

Festival April akan berlangsung di Jakarta selama 17 hari, menampilkan 7 sub- festival atau cabang kesenian. Kesemuanya dirancang untuk menjadi event budaya yang populer dan menyenangkan. Festival ini akan menjadi agenda tahunan yang prestisius. Kami berharap dimasa depan akan muncul event-event serupa di berbagai kota di Indonesia.

Festival April juga merupakan bagian dari jaringan Ladyfest Internasional - yakni jaringan festival perempuan “LadyFest” yang pertama kali digelar di Olympia, Amerika Serikat pada tahun 2000 dan saat ini telah meluas penyelenggaraannya di lebih dari 20 kota besar di Amerika, Eropa dan Australia. Festival April akan merupakan LadyFest pertama yang diselenggarakan di Asia.

Festival April diprakarsai oleh Institut Ungu, dan disambut hangat oleh berbagai komponen masyarakat mulai dari praktisi seni, aktivis perempuan, akademisi, organisasi sosial, media massa, dan ber bagai institusi baik pemerintah maupun swasta.


Liputan Media tentang Festival April 2003


Festival April 2003
Festival Perempuan Pertama di Indonesia

Jakarta, Sinar Harapan, 25 Maret 2003
www.sinarharapan.co.id/berita/0303/25/hib02.html


Pusat seni budaya perempuan ”Institut Ungu” menyelenggarakan Festival April 2003, sebuah festival perempuan pertama di Indonesia yang sekaligus merayakan bulan kelahiran Kartini. Segala macam medium seni budaya antara lain sastra, film, seni rupa, diskusi buku, temu pengarang, orasi budaya dua generasi, tari, musik, peluncuran buku, dialog publik ”Seni dan Pembebasan Perempuan”, dan Anugerah Sastra Perempuan akan ditampilkan sejak 5 April hingga 20 April mendatang.

Acara pembukaan Festival April 2003 dimulai Sabtu (5/4) malam di Galeri Cipta II dan III, Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan happening art ”Pembebasan” oleh Marintan dan perupa Finlandia, Willem. Disusul peresmian pameran senirupa yang mengekspresikan seni patung, fotografi, seni lukis, grafis, keramik, instalasi, body painting, desain fashion, mixed media dan video art. Diikuti sekitar 40 perempuan perupa Indonesia dari semua generasi seperti Kartika Affandi, Astari Rasyid, Dolorosa Sinaga, Iriantine Karnaya, Titi Qadarsih, Keke Tumbuan, Tri Neddy hingga Wara Anindyah dan Ni Kadek Murniasih.

”Saya ingin menaikkan citra perempuan dalam seni lukis,” ujar Titi Qadarsih, ibunda Indra ”BIP”, saat jumpa wartawan di Galeri Cemara 6, Jumat (21/3).
Di antaranya Titi akan membuat sketsa lukisan cepat (5 menit) dengan basic tari, puisi, dan gerak berimajinasi secara spontan dan tiba-tiba.

Kegiatan senirupa itu dilengkapi dengan workshop yang diisi perupa terkenal seperti Dolorosa dan para mahasiswi Fakultas Senirupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta).
Adapun festival film perempuan (10 – 13 April 2003) yang berlangsung di sineplek TIM, halaman TIM, dan Galeri Cipta II menyajikan antara lain Tiga Dara, Ibunda, Budak Nafsu, Kerikil-Kerikil Tajam, dan Ponirah Terpidana. Ada pula beberapa fim asing dari Rusia, Iran, Australia, Portugal, India, dan Jepang. Selain itu ditampilkan film-film independen karya sutradara perempuan Indonesia.

Festival sastra perempuan (16-17-18/4) akan menyajikan diskusi buku kisah klasik Indonesia, Calon Arang dari dua pengarang berbeda, Toety Heraty Noerhadi dan Pramudya Ananta Toer. Selain itu diadakan temu pengarang dan publik bersama belasan penulis lintas generasi, mulai dari NH Dini, Mira W, Marianne Katoppo, hingga Dewi Lestari, Ayu Utami, dan Jenar Maesa Ayu.

Dialog publik ”Seni dan Pembebasan Perempuan” (19/4) di Galeri Cipta II akan menghadirkan pembicara Ratna Sarumpaet, Dolorosa, Ahmad Dhani ”Dewa”, dan penyair Putu Oka Sukanta.

Kegiatan Festival April 2003 diakhiri dengan Malam Perayaan Kartini (20/4) di Graha Bhakti TIM yang diisi orasi kebudayaan dua generasi dari dua pelaku budaya perempuan yang mewakili zaman dan generasinya, yakni Prof Toety Heraty dan Dewi Lestari. Disusul dengan pemberian anugerah sastra perempuan, diiringi pentas tari etnis kontemporer Betawi bertajuk ”Kembang Jaro” karya Madya Patra Rahadi, dan ”Sri Tanjung” karya I Wayan Diya.

Pentas tari itu dilengkapi kemeriahan musik dari Oppie Andaresta (pop), Syaharani (jazz), Ubiet (tradisional Aceh), dan Mak Minah (Betawi).
Ketua Umum Institut Ungu, Yeni Rosa Damayanti menyebut Festival April 2003 adalah ekspresi kreativitas seni budaya komunikatif untuk publik di Hari Kartini.(jjs)


Festival presents women in arts
The Jakarta Post , Jakarta | Thu, 04/10/2003 10:42 AM | Life
Tantri

Yuliandini, The Jakarta Post, Jakarta

Kartini Day, every April 21, usually evokes memories of parades of little children clad in colorful national dress or various competitions ranging from best-dressed, best-behaved, best singing, to best writing.

One wonders what they all had to do with Kartini, the 19th century Javanese woman who had supposedly sparked the first women's emancipation movement in Indonesia with her school for girls and progressive letters.

Nothing whatsoever. And therefore it is with great relief that Institut Ungu, a women's art and cultural organization, has organized Festival April 2003, showcasing the progress of Indonesian women in the field of arts and culture, in commemoration of this year's Kartini month.

""At Festival April the voices of women will be carried to the people through an interesting medium, arts and culture,"" Institut Ungu said in a statement.

Festival April is the first all-women festival in the country, aimed at exposing a women's perspective to the general public as well as promoting the creations of female artists and authors.

The five main themes of the festival -- which opened on April 5, 2003 at Taman Ismail Marzuki (TIM) in Central Jakarta -- are a Women's Fine Arts Festival, Women's Film Festival, Women's Literature Festival, a public dialogue titled Seni dan Pembebasan Perempuan (Art and Women's Emancipation), and a Kartini Night.

The Women's Fine Arts Festival will showcase the work of 40 female artists like Kartika Affandi, Astari Rasyid, Dolorosa Sinaga, Sekar Ayu Asmara, Rima Melati and Rukmini Affandi, with works ranging from sculpture, photography, painting, to video and happening art.

The Women's Fine Arts Festival will be held from April 5 to April 11 at TIM's Galeri Cipta II and Galeri Cipta III. Workshops by the masters will be held at Galeri Cipta II from 10 a.m. to 5 p.m. and exhibitions will be open from 10 a.m. to 10 p.m.

Between April 10 and April 14, The Women's Film Festival will be held at TIM's Cineplex 21 and on a wide screen on the grounds of TIM.

To be screened during the festival are Indonesian films on women like Kartini, Tiga Dara (Three Women), Ibunda (Mother), Budak Nafsu (Lust Slave), and Kerikil-Kerikil Tajam (Sharp stones), as well as foreign movies such as Doesn't Believe in Tears (Russia), Rabbit Proof Fence (Iran) and To Be or Not To Be (Portugal).

The festival will also screen independent movies by or about women.

Cala Ibi, a book by Nukila Amal, will be launched at Aksara Bookstore in Kemang, South Jakarta, on April 16.

The Women's Literature Festival will continue on April 17 with a discussion of Perempuan dalam Cerita Calon Arang (Women in the Calon Arang story) by a panelists, including Gadis Arifia, Pande K. Trimayuni and Max Lane.

The discussion, held at TIM's Galeri Cipta II at 7 p.m. until 10 p.m., is based on Toeti Heraty's Calon Arang, Kisah Perempuan Korban Patriarki: Prosa Lirik (Calon Arang, A Story of a Woman Victim of Patriarchy: Lyrical Prose), and Pramoedya Ananta Toer's The King, the Witch, and the Priest.

A short story workshop for high school students will be organized on April 17 and April 18 at TIM's Galeri Cipta II with Linda Christanty at 11 a.m. to 3 p.m.

Authors Ayu Utami, Mira W, Mariane Kattopo, NH Dini, Jenar Maesa Ayu and Helvi will be on hand at Galeri Cipta II on April 18 at 7 p.m. for a meet-the-author event.

A book bazaar and exhibition A Room of Her Own will also take place during the two-day Women's Literature Festival at Galeri Cipta II.

On April 19, a public dialogue titled Seni dan Pembebasan Perempuan (Art and Women Emancipation) will be organized at Galeri Cipta II between 10 a.m. and 3 p.m.

Panelists will include Anang Hermansyah, Julia Surya Kusuma, Ratna Sarumpaet and Dolorosa Sinaga.

Festival April will end on the eve of Kartini Day with a cultural oration by two generation of Indonesian women -- Toeti Heraty and Dewi Lestari -- and the launch of the Women's Literary Award.


Kompas, 13 April 2003.

Memperingati Hari Kartini Tanpa Kebaya dan Konde



SETIAP memasuki bulan April, perempuan di Indonesia pasti akan teringat pada RA Kartini. Lalu, biasanya peringatan terhadap gagasan, ide, dan perjuangan perempuan ningrat Jawa untuk sesama perempuan itu akan diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang jauh melenceng dari pikiran-pikiran tokoh emansipasi perempuan itu.

MULAI dua tahun lalu, ada yang berubah di masyarakat dalam memperingati Hari Kartini. Peringatan untuk perempuan yang bersikukuh bahwa memajukan perempuan adalah melalui pendidikan ini tidak lagi berwujud lomba berkebaya, lomba memasak, lomba putri luwes, atau beramai-ramai berbusana daerah seperti berpuluh tahun terjadi.

Tahun ini, dari tanggal 5-21 April 2003, ada Festival Seni Budaya Perempuan untuk Perayaan Bulan Kartini di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Acara yang digagas Institut Ungu ini berwujud pameran seni rupa, pemutaran film, dialog publik, bedah buku, orasi budaya oleh Toeti Heraty dan Dewi "Dee" Lestari, sampai perayaan Malam Kartini. Sebelumnya, Divisi Perempuan & Anak Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia bersama-sama Teater Bejana memproduksi monolog Cairan Perempuan untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Perempuan Internasional.

Tahun lalu, meskipun tidak persis dilakukan pada bulan April melainkan bulan Maret, untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, publik Jakarta disuguhi pertunjukan monolog berjudul Vagina Monolog. Pentas yang naskah aslinya berjudul Vagina Monologues karangan Eve Ensler ini sungguh provokatif dan menarik minat penonton maupun media massa, karena hal yang menyerempet-nyerempet seksualitas jarang sekali dibicarakan secara publik, seolah tabu membicarakannya. Salah-salah bisa dituduh pornografi, sementara yang nyata-nyata menjajakan pornografi dibiarkan tenang-tenang melakukannya.

Pentas monolog yang berbicara tentang keperempuanan dan pengalaman perempuan yang menyenangkan maupun yang pahit, termasuk kekerasan terhadap perempuan itu, tahun ini diadakan di Yogyakarta dan penonton pun kembali luber.

Menurut Dian Kartika dari Koalisi Perempuan Indonesia sebagai produser acara pentas Vagina Monolog di Indonesia, istri Wali Kota Yogyakarta ikut menjadi salah satu pembaca naskah. Kabarnya, semula Ratu Hemas, istri Sultan Hamengku Buwono X, akan ikut menjadi salah satu pembaca naskah, tetapi saat-saat terakhir mengundurkan diri.

Gejala apa ini? Apa benar ketika pengaruh negara melemah, perempuan berhasil mengambil inisiatif memaknai keperempuanan mereka dengan cara berbeda dari makna yang selama ini dibentuk oleh negara?

BILA acara-acara kesenian di atas menarik perhatian publik dan media massa, boleh jadi karena ada pelibatan sejumlah selebriti di dalamnya. Deretan nama yang dikenal luas publik, seperti artis Ine Febriyanti, Rieke Dyah Pitaloka, Syaharani, Ria Irawan, Dewi Lestari, Nurul Arifin, kakak beradik Ayu dan Sarah Azhari, Rima Melati, serta penulis novel Ayu Lestari dan perupa Astari Rasyid, terlibat dalam kegiatan ini.

Di balik itu, sebenarnya adalah kesadaran dari kelompok-kelompok perempuan untuk melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi wajah perempuan Indonesia melalui jalan kesenian untuk menjangkau publik yang lebih luas dan tidak berkesan menggurui. "Kami memilih Hari Kartini karena dia adalah tokoh yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia," tutur Yeni Rosa Damayanti dari Dewan Pengurus Institut Ungu.

Ternyata, gagasan kelompok perempuan tersebut seperti gayung bersambut. Sejumlah selebriti menyambut ajakan berpartisipasi dan bersemangat menanggapi isu-isu mengenai perempuan.

"Perempuan sekarang harus lebih ekspresif dan berani menyampaikan gagasan. Kartini pada zamannya kan sudah menyuarakan isi hati. Perempuan sekarang juga bisa menjadi Kartini," kata pemain sinetron Ine Febriyanti (27), yang juga menerjuni dunia teater.

Ine menyuarakan pendapatnya itu melalui pentas teater, antara lain Ekstrim karya William Mastrosimone, yang dimainkan bersama Jakarta Shakespeare Theater di Taman Ismail Marzuki akhir Januari lalu. Ine memerankan tokoh Margie, perempuan yang mengalami perkosaan. Sebagai survivor, Margie bangkit melawan dan menyiksa si pemerkosa untuk membalas dendam. Tetapi, pada akhir cerita, etika perempuan yang menurut psikolog dari Harvard Carol Gilligan berdasarkan pada kepedulian, memunculkan rasa iba pada Margie dan dia mengampuni pemerkosanya.

"Perempuan itu memiliki keindahan, tetapi bukan berarti lalu laki-laki punya hak untuk mengintimidasi perempuan," tandas Ine. "Saya cukup bangga membela perempuan lewat pentas Ekstrim. Saya ingin menjadi seperti Kartini yang pada zamannya berani menyuarakan ide. Sekarang, seperti dalam pentas Ekstrim, saya ingin menyampaikan ini lho persoalan (ketidakadilan) sebenarnya yang dialami perempuan."

Syaharani (31) mengaku langsung bersedia membantu lebih jauh dalam Festival April 2003 setelah berbicara dengan Yeni Rosa Damayanti. Semula dia diminta mengisi acara penutupan, tetapi kemudian bersedia dilibatkan dalam kepanitiaan untuk promosi yang secara bercanda dia sebut, "Ikut nempel-nempel poster di supermarket-supermarket. Woro-woro, PR-lah."

"Saya melihat aktivitas ini dari sisi penyebaran daya apresiasi dan peningkatan pendidikan," kata Syaharani, yang Selasa lalu berada di Bandung untuk urusan menyanyi di sebuah hajatan perusahaan. "Obat paling mujarab untuk memperbaiki generasi sekarang ini melalui pendidikan dan apresiasi seni bermutu."

Aktris Ria Irawan (34) termasuk yang pertama-tama terlibat dalam pentas teater yang berbau penyadaran hak-hak perempuan. Tahun lalu dia ikut dalam pentas Vagina Monolog di Jakarta dan tahun ini untuk pentas yang sama di Yogyakarta. Dia juga terlibat dalam pentas teater Perempuan di Titik Nol (2002) dan monolog Cairan Perempuan (2003).

Meskipun begitu, Ria mengaku niatnya ikut dalam pentas-pentas teater atau monolog bertema perempuan bukanlah didasari kesadaran dari awal untuk ikut dalam gerakan perempuan. "Kesertaanku dalam pentas-pentas itu adalah bagian dari revolusi perjalananku, bukan sebuah kesadaran, apalagi karena mengikuti gerakan perempuan," kata Ria.

Bila pentas teater yang pernah dia ikuti nantinya melahirkan sebuah genre berkesenian baru, katakan teater feminis, Ria mengatakan sanggup mempertanggungjawabkannya secara kesenian.

Dalam Festival April 2003, Ria akan menjadi salah satu pembicara pada tanggal 19 April, sedangkan pada tanggal 18 April, Ria akan ikut membacakan surat-surat Kartini dalam sebuah acara yang diadakan di Rembang, Jawa Tengah. "Gue ikut-ikut pentas itu bukan karena tumbuhnya kesadaran akan gerakan perempuan. Gue tiba-tiba sudah ada, itulah revolusi gue itu," kata Ria lagi.

KATA ekor berkonotasi dengan sesuatu yang pasif karena mengikut saja ke mana kepala pergi. Kata itulah yang digunakan Rieke Dyah Pitaloka (29) dengan sangat provokatif untuk menggambarkan kenyataan perempuan dalam perkawinan saat ini.

//bagai ekor yang menempel di pantat binatang…// ungkap Rieke dalam puisi berjudul Kado Perkawinan. Rencananya, puisi itu akan terbit bersama puisi-puisinya yang lain bulan depan. Isinya terutama mengenai ketertindasan perempuan, bukan hanya oleh laki-laki, tetapi juga oleh sistem yang patriarkis.

"Dalam perkara ini, perempuan yang menempel suami bagai ekor di pantat binatang sama sekali tidak bisa disalahkan. Sistem yang berlaku di masyarakat dan negara adalah sumber penyebabnya. Sistem kita masih carut-marut. Pendidikan kita, misalnya, sama sekali tidak berpihak kepada kaum perempuan," kata Rieke.

Ada satu pengalaman yang membuat Rieke melek bahwa perempuan di dalam budaya Indonesia posisinya masih direndahkan dan didominasi sistem yang patriarkis. Pada awal kariernya sebagai artis, seorang produser pernah menawarinya untuk memilih "main gila" atau main sinetron. "Gila enggak aku ditawari kayak begitu. Menurut aku, itu sudah merupakan bentuk-bentuk pelecehan terhadap perempuan," kata Rieke jengkel.

Kejadian pengambilan gambar secara sembunyi-sembunyi sejumlah artis ketika mereka berada di ruang ganti pakaian, menurut Rieke, adalah contoh lain tentang dominannya budaya patriarki. "Bukan sekadar perendahan atau pelecehan terhadap harkat perempuan, ini sudah mencederai. Temanteman yang terkena kasus ini menjadi sangat trauma, dan ini cedera yang sangat sulit disembuhkan," kata Rieke. Tragisnya, berbagai tindakan pelecehan itu, lanjutnya, dianggap sebagai sesuatu yang wajar, biasa saja.

Perjuangan Kartini, menurut Rieke, memang baru berhasil membukakan pintu sekolah untuk anak-anak perempuan, tetapi itu adalah sumber inspirasi. Banyak yang mesti dilakukan ke depan, meskipun perempuan sekarang bisa mengambil keputusan buat dirinya.

"Perempuan belum bisa lepas dari penindasan bukan saja oleh laki-laki, tetapi juga oleh sistem dengan negara sebagai pengendalinya. Belum tentu kan perempuan yang jadi pimpinan lalu kebijakannya membela kaum perempuan. Demikian juga sebaliknya, belum tentu seorang laki-laki tidak peduli pada perjuangan perempuan mendapatkan keadilan," tandas Rieke.

Karena alasan itu, Rieke tidak ragu-ragu ketika diajak tampil dalam pertunjukan monolog maupun pentas teater yang menyuarakan isu-isu perempuan, mulai dari Ekstrim, Perkawinan, sampai Cairan Perempuan. Dia bahkan bertekad akan berkesenian dengan terus membawakan suara perempuan.

Ada alasan mengapa Rieke memilih jalur kesenian. Kata mahasiswi S-2 Jurusan Filsafat Universitas Indonesia ini, kesenian akan lebih menyentuh hati nurani dan tidak menggurui. Di sisi lain, gerakan perempuan selama ini cenderung menjadi gerakan yang eksklusif. "Padahal, gerakan ini kan tidak bisa dilepaskan dari gerakan politik, misalnya. Jadi, jangan berjuang sendiri-sendiri. Ajak juga laki-laki yang feminis untuk memperjuangkan keadilan untuk perempuan," tandas pemain sinetron Bajaj Bajuri ini lagi.

Aktris yang juga punya ketegasan sikap dalam memperjuangkan isu-isu perempuan adalah Nurul Arifin (35). Dia termasuk artis yang pertama- tama merasakan ada sistem yang tidak adil terhadap perempuan. Apalagi dia berada dalam dunia sinetron yang membentuk stereotip perempuan yang bila bukan lemah, tidak berdaya, dan patuh, dia adalah jahat, culas, cerewet, konsumtif, dan terpenjara dalam lingkup domestik. Kalaupun ceritanya mengambil tokoh perempuan karier atau profesional, tidak pernah diceritakan bagaimana perjuangan dan gagasannya dalam karier, tetapi balik lagi ke stereotip di atas.

Keterlibatan Nurul dalam isu-isu perempuan berawal ketika dia ikut bermain dalam sinetron Kupu-kupu Ungu tahun 1996-1997 sebagai dokter yang menangani penderita AIDS. Setelah bermain dalam sinetron yang disponsori Yayasan Ford dan USAID itu, ibu dua anak ini merasa ada kebutuhan mencari tahu lebih jauh mengenai AIDS. Dari situ, dia lalu ikut kursus mengenai kesehatan reproduksi yang diselenggarakan FISIP Universitas Indonesia (UI) dengan beasiswa dari Yayasan Ford.

"Di situ aku belajar tentang relasi jender dan kesehatan reproduksi, dan aku baru benar-benar mudeng, terbuka banget pengetahuanku tentang relasi jender. Padahal, aku ini kan istilahnya cewek gaul, tetapi aku merasa surprise banget ada konstruksi sosial yang tidak adil terhadap perempuan. Aku enggak bisa bayangin bagaimana perempuan-perempuan di pelosok-pelosok yang tidak seberuntung aku punya pengetahuan mengenai ini," kata Nurul, yang kini tengah melanjutkan studi ilmu politik di S-1 FISIP UI.

Bersekolah lagi pun seperti suratan takdir yang memperkuat pengetahuannya sebelumnya. "Tiba-tiba aku sekolah lagi ambil ilmu politik. Pertimbanganku awalnya sederhana saja memilih jurusan itu. Ilmu politik karena tidak diminati perempuan, maka aku pasti diterima. Jadi, aku sering surprise sendiri kok semuanya jadi seperti sejalan," tambah Nurul, yang belakangan laris jadi bintang iklan.

MENCOBA konsisten dengan pemahamannya yang baru, Nurul jadi lebih teliti dalam melihat skenario yang ditawarkan kepada dia. Dia tidak segan untuk melakukan tawar-menawar dengan produser atau sutradara dan penulis skenario bila dia merasa ada peran yang menguatkan stereotip perempuan. "Saya enggak mau kalau disuruh menangis tanpa alasan yang kuat," kata Nurul, yang akhirnya selalu mendapat tawaran untuk peran perempuan mandiri.

Toh Nurul mengaku tidak mendapat kesulitan dengan para produser dan dia tetap mendapat tawaran bermain sinetron. "Saya malah punya bargaining position yang lebih baik, misalnya saya bisa bilang saya mau syuting setelah selesai jam kursus (tentang hak reproduksi)," kata Nurul. "Citra saya juga naik dalam iklan, kan."

Nurul berusaha menularkan pengetahuannya kepada teman-temannya sesama artis supaya mereka bisa ikut mengubah kondisi yang tradisional tentang perempuan dan mengubah sistem yang patriarki dalam industri film, tetapi dia mengaku sulit sekali. Bahkan, beberapa teman artis yang dia lihat berpikiran terbuka dan maju malah menciut ketika diajak berbicara soal ini.

"Padahal, aku sudah katakan feminisme itu bukan mau melebihi laki-laki, tetapi mau supaya kita sejajar. Yah, bagaimana ya, teman-teman sendiri sering menyindir ngapain mengurusi ini, tetapi aku sih cuek saja," kata Nurul diiringi derainya.

Ine Febriyanti juga tidak mau karena kepeduliannya pada isu-isu ketidakadilan terhadap perempuan lalu bertindak, menurut istilah dia, ekstrem. Yang dia maksud ekstrem itu antara lain tidak mau melahirkan, meninggalkan tanggung jawab sebagai ibu, tidak mau menikah. "Yang penting, keseimbangan antara hak dan kewajiban perempuan itu terjaga, tidak timpang dan tidak terjajah. Jangan atas nama kebebasan lalu bersikap sinis dan mengintimidasi laki-laki," ujarnya.

Pandangan yang senada juga dilontarkan Syaharani. "Perempuan itu secara kodrati diberi kelebihan untuk melahirkan kehidupan, tetapi dia juga bukan superwoman. Jadi, saya juga tidak setuju kalau perempuan lalu mengambil alih tugas laki-laki," katanya.

Tidak heran bila Rieke mengingatkan bahwa perempuan harus lebih yakin terhadap kemampuan dirinya dan menyadari meskipun hidup di dalam dunia yang didefinisikan laki-laki, nasib perempuan ada di tangan perempuan sendiri. "Tetapi, jangan bertindak berlebihan. Bertindaklah sebagaimana kita mengenal diri kita sendiri supaya tidak merugikan orang lain dan diri kita sendiri," kata penulis puisi ini. (CAN/XAR/NMP)


From Inside Indonesia magazine
www.insideindonesia.org/content/view/287/29/

Women’s voices in the arts
Women’s movement activists and artists unite
Max Lane


Last April around 100 activists, mainly women, united to organise the first women’s cultural festival to be held in Jakarta for several decades, at least. The festival began on 5 April and ended on 21 April, the birthday of Kartini, who wrote and campaigned on women’s rights at the beginning of the century. The momentum for the festival developed in April 2002 after activists from Solidaritas Perempuan (Women’s Solidarity for Human Rights), staged a performance of an adaptation of Nawal El Saadawi’s novel, Women at Point Zero, a story of the oppression of women in Egypt and that exulted in the spirit of a woman’s defiance of that oppression. It was a unique event also in that it brought together women’s movement activists, community arts activists, as well as TV actors and celebrities.

Two evening performances were sold out and a huge media discussion on women’s rights and sexuality was generated. The co-producers, Faiza Mardzoeki and Yenny Rosa Damayanti, decided to establish a new group, called Institut Ungu, a women’s art and culture centre. They were joined by two other activists as founders: Irina Dayasih and Nur Rachmi. The cultural festival, called Festival April, was Ungu’s first project.

In her report, Program Coordinator, Faiza Mardzoeki, estimated that around 5,000 people attended some component of the festival. The program comprised a film festival, showing more than 50 Indonesian and international films; a fine arts exhibition, with paintings and sculpture by 48 women artists, as well as a literary program and a series of discussions around the issue of the role of art in women’s liberation. It ended with an evening event comprising modern dance and musical performances, as well as public orations by well-known poet, Toety Heryati and novelist Dewi Lestari.

The festival operated at two levels. First, it was a showcase of women’s talent in all fields, sometimes raising issues of political and social commitment, sometimes apolitical or only indirectly so. The variety of talent that was revealed underscored the huge potential of artistic creativity among women and which is not recognised under conditions of general and systematic discrimination against women. Any collective effort of women artists to get their works before the public eye represents an important contribution to the struggle for women’s emancipation, whatever the individual political outlook on the issue of women’s liberation of each artist.

The paintings and sculptures from the 48 women represented works of artists based in Jakarta and the regions. Themes ranged from expressions of sexuality and sensualness, through to depictions of everyday life, as well as that of political protest and struggle.

The film festival also showed a great range of talent. This was especially seen in the exhibition of short films which has boomed with increased access to relatively inexpensive video technology. Most of the short films aimed to tell the stories of women’s experiences which clearly the film makers thought had been undervalued in society in general: daily life in the home; or a young woman’s first menstruation, for example. Among these too were films by women about general subjects: from the adventures of street children to problems of drug taking.

The discussions during the literary sub-festival and the day long seminar on the role of art in women’s liberation represented the other side of the event: the attempt to come to grips with the issue of repression and liberation itself and the role of the arts and literature as a weapon of liberation. The range and unevenness of views and ideas on this front was very evident. The Festival April was an interesting initiative in that the idea came from women’s movement activists rather than from writers or artists themselves. The Festival brought these two groups together: activists and artists, but sometimes they were only basically united on the issue of the need for solidarity among women to expand a place for women. Perhaps the sculptor, Dolorosa Sinaga, who spoke on the art and liberation panel was the main exception to this. Another writer, the dramatist Ratna Sarumpaet, who had written the drama around oppressed female figures, such as the murdered worker activist, Marsinah, and an oppressed Acehnese woman, Alia, also espoused a strong political position on human rights, but not so much in terms of gender oppression itself.

The Festival April as the first collective effort of women to present their voices through art, and a start to the discussion of how art can be used to further the struggle for women’s liberation. Two clear challenges were revealed by the festival: how to further develop and make accessible the huge artistic talent among women and how to win more of those women to the idea of using their talent in the political battle to end gender oppression.

Max Lane (max_lane@bigpond.com) is founding editor of Inside Indonesia and a Research Fellow at the Asia Research Centre, Murdoch University.

Copyright 1996-2009 © Inside Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar